30 Oct
  • By Admin Pusat
  • Cause in

Uluran Tangan Kita, Jembatan Asa Mereka

Menjadi dewasa memang seolah menuntut kita untuk mulai menata masa depan dan memikirkan segala sesuatunya sedemikian rupa. Terlebih dari mimpi dan cita-cita apa yang harus kita wujudkan sebelum usia tua disandang. Cita-cita. Siapa sih yang nggak kenal dengan istilah satu ini, semua orang hidup di dunia pasti memiliki cita-cita dan berbagai macam mimpi yang akan mereka wujudkan suatu hari nanti. Bahkan bercita-cita tidak hanya terucap dari orang-orang dewasa saja, sedari kecil menanyakan tentang cita-cita merupakan hal yang tak pernah ketinggalan.

Cita-cita ibarat nyawa.

Setiap orang akan berusaha sekuat tenaga bagaimana caranya bisa membuat mimpinya menjadi suatu hal yang nyata. Melangkah lebih jauh dan berani mengambil resiko meskipun terkadang keluar dari zona nyaman perlu dilakukan. Cita-cita bisa menjadi sebuah pendongkrak semangat dan menjadikan hidup kita semakin terarah. Semua orang berhak bermimpi dan mempunyai cita-cita termasuk saudara kita semuanya. Siapa lagi kalau bukan para dampingan Hafara yang selalu membawa aura penggelitik hati nurani setiap hadir dihadapan kita.

Secara kasap mata keadaan mereka memang tak sama dengan kita, namun asa mereka tak kalah besarnya dengan apa yang ada di fikiran kita. Berjuang dan terus berjuang mengejar sembuh. Tak peduli rintangan apa yang hadir menerpa ditengah-tengah perjalanan mereka, teguh hati dan semangat yang tinggi tetap berdiri kokoh di hati. Mereka tetap telaten melewati semua tahap yang didalamnya selalu ada kehadiran Sang Ilahi Rabbi. Sang pemimpi tetap akan menggantungkan cita-citanya setinggi langit begitupun mereka. Mungkin awalnya pernah terlintas rasa ragu di benak kita dan menganggap semua ucapan mereka hanyalah lelucon semata.

Namun, jauh di lubuk hati dan fikiran mereka mimpi itulah yang akan terus mereka coba untuk wujudkan melalui cara apapun dan dengan keadaan apapun.

Mereka bisa, juga percaya bahwa Allah tak pernah lelah menemani setiap langkah perjuangan hidup di dunia.  Mereka akan selalu berusaha sekuat tenaga, bersiteguh dalam doa juga beroptimis dalam meletakkan tawakal kepadaNya. Memang Allah semata penulis naskah kehidupan, kita sebagai pemerannya dan hasil akhir kembali lagi ke tanganNya. Semua hal itupun berlaku juga di mimpi dan cita-cita kita. Tinggal bagaimana caranya kita bisa menyusun strategi agar cita-cita itu tak hanya berstatus sebagai sebuah mimpi.

Menyadari bahwa selalu ada jalan terjal yang datang menghampiri. Sabar serta berpasrah diri kepada Allah memang menjadi langkah selanjutnya setelah kita berusaha.

Satu lagi yang pasti selalu tancapkan rasa berbagi di hati. Mari bergabung bersama kami dengan klik ini https://kitabisa.com/campaign/zakathafara . Ulurkan tangan kita untuk membantu mereka wujudkan asa sekaligus sebagai penguat menggapai mimpi dan cita-cita yang kita punya. Mimpi di dunia memang harus di sapa tapi mimpi di akhirat juga harus melekat erat. Semangat berjuang sambil berbagi untuk mencari berkah dan ridho Illahi.

Admin Pusat