06 Sep
  • By Admin Pusat
  • Cause in

Terima Kasih Kek, atas Cinta Luar Biasanya

Penyandang Disabilitas adalah orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif.

Masihkah kalian ingat dengan ASEAN Para Games tahun kemarin ? Dimana Negara kita Indonesia menjadi tuan rumahnya. Pesta olahraga sebagai ajang perlombaan para atlet yang mohon maaf mempunyai fisik yang cacat (disabilitas). Kegiatan itu menunjukkan bahwa orang cacat bukan berarti tidak mampu melakukan hal yang biasa dilakukan orang normal. Mereka membuktikan bahwa dibalik kekurangannya ada kelebihan yang sangat luar biasa.

Wawan seorang remaja yang mengalami disabilitas. Bersyukur dan tersenyum adalah cara yang dilakukannya.

Hal serupa yang dialami Wawan Setyawan. Remaja berusia 21 tahun yang kesehariannya hanya berbaring dikasur lantainya karena keterbatasan fisik di tubuhnya. Meskipun istilah ‘Disabilitas’ menjadi label untuknya, namun bukan berarti ia tak mampu apa-apa. Ia mempunyai segenggam semangat yang sangat tinggi untuk terus menjalani hidupnya. Karena selalu ada sesosok Kakek yang sangat menyayangi dan mengayominya lebih dari apapun itu. Panggil saja Simbah Slamet.

Iya. Simbah Slamet lah yang sehari-hari menjadi penopang hidup Wawan. Meskipun keadaan simbah Slamet juga tidak sehat maksimal. Beliau terkena gejala stroke ringan, dimana kedua kaki dan tangan kanannya sudah tidak bisa merasakan apa-apa. Beliau mempunyai seorang istri dan anak. Tapi saat kami silaturahmi pertama kali dirumahnya hanya sang cucu dan beliaulah yang kami lihat dirumah itu. Meskipun seperti itu, tapi beliau tidak pernah menyerah karena apa ?

Karena ada seorang cucu yang harus beliau rawat, jaga dan lindungi. Bukan karena perihal sifat ketergantungan sang cucu terhadapnya. Namun, karena ikatan batin juga ikatan cinta yang tak bisa dipisahkan diantara mereka berdua. Dulu pernah keduanya sempat dipisah karena suatu hal. Tapi baru selang beberapa hari dari perpisahan itu. Wawan ngedrop keadaannya dan harus dirawat dirumah sakit dan keadaannya sampai koma.

Wawan dan mbah Slamet

Namun, setelah kedatangan dan kehadiran sosok kakek disampingnya. Wawan langsung bangun dari komanya. Kami tidak tau persis. Ikatan batin cinta itu seperti apa. Tapi pertemuan kembali Wawan dan kakeknya mampu mengembalikan keadaan Wawan stabil dan lama-lama pulih dengan baik.Rupanya, memang hal itulah yang dirindukan Wawan. Selalu ingin dekat dengan sang Kakek seperti hari-hari biasanya yang ia lalui.

Krapyak Wetan Rt. 08 Panggungharjo, Sewon. Di desa itulah Wawan dan sang Kakek tinggal dan menghabiskan hari-harinya hanya berdua. Seperti itulah kurang lebih gambaran rumah Wawan dan Kakeknya. Sebuah gubuk yang begitu sederhana, terbuat dari dinding bambu yang orang jawa sering bilang (omah gedhek), lantai tanah, beratapkan seng.

Coba fokus sebentar Kawan ! Lihat disudut pojok rumah mereka ! Gedhek rumah mereka berlubang dan sudah tidak kuat lagi. Sempat terfikir nggak dibenak kalian ? Bagaimana kalau musim hujan tiba. Apa rumah itu masih bisa mereka jadikan tempat berlindung dari derasnya air hujan. Rumah kita yang tersusun dari material kokoh saja, kadang masih suka bocor ketika hujan tiba.

Lalu, bagaimana dengan keadaan rumah mereka yang seperti itu ? Sudah bisa dipastikan air hujan akan masuk kerumah mereka. Terus bagaimana dan kemana mereka harus berlindung diri. Sedangkan untuk bergerak saja menjadi perjuangan yang luar biasa buat mereka. Lalu bagaimana kebutuhan makan mereka setiap harinya ? Sudah tidak bisa dipungkiri Kawan. Kalau Allah itu memang Maha Mengetahui dan Mengasihi.

Ditengah kesusahan yang Wawan dan kakeknya. Selalu ada #orangbaik yang membantu kebutuhan sehari-hari mereka, termasuk kebutuhan makan. “Terima kasih ya Kek. Atas semua yang sudah kakek berikan ke aku. Semua pengorbanan kakek. Jerih payah kakek. Kesabaran kakek.

Dan semua kebaikan yang tak terhitung jumlahnya yang sudah kakek berikan ke aku”. Kurang lebih seperti itulah ungkapan hati Wawan kepada kakeknya atas cinta luar biasa yang sudah diberikannya. Atas perlindungan lahir maupun batin yang setiap hari diberikan untuknya. Lagi ikatan batin cinta itu nyata. Wawan dan sang Kakek begitu sangat kuat dan semangat menjalani hidup mereka dengan keterbatasan itu. Fisik dan rumah mereka memang bisa dibilang terbatas.

Namun, hati dan cinta mereka tak terbatas untuk saling menguatkan satu sama lain. Serta saling mengingatkan kalau rasa syukur itu harus selalu mereka punya setiap harinya. Karena Allah lah sebaik-baik penolong. “Hasbunallah wani’mal-wakîl, ni’mal-mawlâ, wani’man-nashîr” “Cukuplah Allah tempat berserah diri bagi kami, sebaik-baik pelindung kami, dan sebaik-baik penolong kami”.

Kawan…

Atas alasan apa lagi yang membuat kita masih belum bisa menerapkan kebiasaan syukur disetiap hari-hari kita ?

Sedangkan Wawan dan sang Kakek dengan keadaan seperti itu saja, sangat pandai bersyukur. Dan tidak ada hal yang tidak mereka pasrahkan ke sutradara hidup yang sesungguhnya. Mari buka hati nurani kita. Belajar lebih peduli terhadap sesama. Dan bantu muliakan hidup Wawan dan Kakeknya. Kami tunggu salamnya lewat https://kitabisa.com/zakathafara atau kunjungi di

Salam #orangbaik. Sampai ketemu di silaturahmi selanjutnya.

Admin Pusat