11 Apr
  • By Admin Pusat
  • Cause in

TANGANKU SARANAKU UNTUK BERJALAN

Cuaca hari ini yang panas tak menggoyahkan kami “Tim Kurir Hafara” untuk menebarkan benih-benih kebaikan. Semangat kami yang akan bertemu oleh seorang Kakek yang luar biasa. Menyampaikan amanah dari si Orang baik kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Kali ini kami akan meluncur ke Jogja bagian Selatan. Malam hari mendapat kabar kalau ada seorang kakek yang sangat membutuhkan uluran tangan dari kita, tak perlu berfikir panjang. Paginya kami pun meluncur ke kediamannya. Panas terik matahari kamipun lawan, haus yang sudah melambai-lambai di tenggorokan tak kami hiraukan. Medan jalan yang tak bersahabat penuh liku-liku dan banyak batu kami pun lewati. Demi akan menyampaikan sedikit rezeki untuk kakek.

Ialah Mbah Notorejo, kakek tua renta yang berusia 71 tahun. Bertempat tinggal di Dusun Metik, Donotirto, Kretek, Bantul. Hidup dengan kesendiriaanya tanpa ada seorang Istri yang mendampingi. Karena 11 tahun yang lalu, tepatnya pada gempa besar yang melanda daerah bantul Istri tersayang Mbah Notorejo terkena musibah. Rumah hancur, bangunan roboh, dan Istrinya Mbah Notorejo tertimpa oleh tembok.

Innalillahi…
Saat itu juga Istri dari Mbah Notorejo, menutup mata untuk selama-lamanya. Cobaan Mbah Noto sangatlah bertubi-tubi, “Ya isone mung tak syukuri mbak, kabeh wes due dalan dewe” Kata Mbah Noto dengan pandangan mata penuh pikiran. Karena beliau yakin kata orang ketika banyak cobaan, dan kita ikhlas menerimanya, dan iman kita kuat. InsyaAllah kita akan di tinggikan derajatnya. Karena tak sampai situ saja, kaki yang menjadi tompangan hidup Mbah Notorejo kini sudah tak bisa berfungsi lagi. Setiap hari menjalani aktifitas dan menghabiskan waktunya dengan menggelesot.

Astagfirulloh…
Saat pertama kami berkunjung ke rumahnya, melihat Mbah Noto sedang memasak untuk makan kambingnya. Dengan senyuman yang ikhlas di perlihatkan kepada kami. Tak di sangka setelah berjabat tangan dengan beliau dengan bergerak dengan lirih berjalan dengan menggunakan kedua tangannya (mengelesot). Mbah Noto menghabiskan waktunya dan menjalani aktifitas sehari-harinya dengan berjalan menggunakan tangganya. Karena sejak 10 tahun lalu Mbah Noto mengalami musibah. Ketika Mbah Noto sedang memelihara sapi, tak di sangka-sangka tiba-tiba sapinya mengamuk dan menginjak kaki Mbah Noto. Dari kejadian tersebut Mbah Noto tak merasakan sakit apapun, hanya pegal-pegal saja yang beliau rasakan. Tapi lama kelamaan kedua kaki Mbah Noto semakin mengicil, dan akhirnya priksalah di Puskesmas ternyata ada penyempitan otot. Sejak itu lah kedua kaki Mbah Noto tak bisa di buat jalan, karena betisnya terlalu saakit. Simbah mempunya tiga orang anak, tetapi semua anaknya sudah mempunya keluarga sendiri.

 

Kini Mbah Noto menjalani hidupnya dengan bantuan anak menantunya, makan dan keperluan sehari-hari di tanggung oleh menantunya. Kesehariannya yang hanya mengembala kambing, hidup dengan kesederhanaan rumah tak bertembok hanya dengan bata, dan ubin tak berkeramik hanya beralas tanah saja

Masya Allah..
Bagaimana dengan kamu ???
Yang masig bisa menjalani aktifitas dengan normal, dan merasakan nikmat yang telah diberikan Nya
Beliau saudara kita, mari temani Mbah Notorejo menemukan jalan hidupnya kembali…
Dengan klik https://kitabisa.com/zakathafara

Admin Pusat