28 Sep
  • By Admin Pusat
  • Cause in

Temani Simbah Sinem dengan Kelumpuhan Dimasa Senjanya

Orang tua adalah sosok yang menjadi latar belakang kehadiran kita didunia. Dari mereka kita dilahirkan, dibesarkan, dididik dengan segala kasih sayang sejatinya sehingga kita bisa menikmati kehidupan ini. Hampir semua hal rela mereka lakukan demi kebaikan seorang anak dan mereka pun sama sekali tidak perhitungan dan meminta imbalan atas jasa yang sudah diberikan.

Dengan begitu kita sebagai seorang anak diharapkan bisa menjadi tumpuan cinta dan harapan kedua orang tua kita.

Selain itu kita juga dianggap sebagai sosok yang akan mengurus dan menanggung sepenuhnya kebutuhan mereka dimasa tuanya kelak. Tapi mengapa lagi-lagi sampai hari ini masih banyak lansia yang harus berjuang hidup sendiri dan tak jarang dari mereka masih banyak yang merasakan pahitnya kehidupan di usia senjanya.

Nasib miris yang juga dialami lansia dengan ketidakberdayaannya ini. Lagi-lagi menjadi bukti bahwa di zaman yang semakin berkembang ini masih banyak masyarakat yang menjalani kehidupan yang kurang layak. Hari Kamis, 26 September 2019 kemarin menjadi hari dimana kami kembali diberi petunjuk dariNya untuk menemui seorang lansia yang tinggal di Dusun Tegesan RT.01, Gadingsari, Sanden, Bantul, Yogyakarta.

Beliau simbah Adirejo, biasa dipanggil simbah Sinem. Lahir dibantul tanggal 31 Desember 1936. Tinggal seorang diri tanpa ada yang menemani perjalanan beliau dalam memperjuangkan hidup. Bukan hanya perjuangan hidup sendiri yang beliau alami, namun keadaan fisik yang sudah tidak selengkap dulu juga menjadi label yang menempel di dalam tubuhnya. Beliau lumpuh semenjak kurang lebih 15 tahun yang lalu. Tidak ada penyebab pasti yang menjadikan beliau lumpuh, keadaan itu terjadi secara tiba-tiba.

Jauh sebelum itu, beliau sudah ditinggal suaminya pergi untuk selama-lamanya. Rumah tangga beliau dengan sang suami dianugrahi dua buah hati. Namun, beberapa waktu setelah sang bapak meninggal mereka pergi meninggalkan rumah dan meninggalkan simbah Sinem seorang diri. Kurang lebih dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, beliau diberi ujian oleh Allah lewat kelumpuhan yang dialaminya. Sejak saat itulah beliau berjuang didalam keterbatasannya dan menempati gubuk tua itu seorang diri tanpa kehadiran suami dan sibuah hati.

Gubuk kecil dengan sekotak ruangan seukuran kamar tidur itulah yang saat ini menjadi tempat berlindung beliau. Dimana sebagian bangunan rumahnya harus sengaja dirobohkan karena sudah retak dan tak layak pakai akibat efek gempa beberapa tahun silam. Simbah Sinem juga merupakan orang yang mempunyai kegigihan yang tinggi. Sebelum kelumpuhan itu datang menghampiri, beliau sempat menjadi pedagang pasar yang menjual tempe benguk (olahan makanan sejenis tempe yang terbuat dari kacang benguk/kacang koro).

Tapi kelumpuhan yang beliau alami sejak beberapa tahun yang lalu itu membuat beliau berhenti berjualan. Duduk dan tidur, istilah gampangnya itu yang hanya bisa beliau lakukan sekarang disetiap hari-harinya. Kebutuhan sehari-hari beliau sekarang ditanggung oleh para tetangga yang saling bahu membahu dalam membantu beliau. Soal makanan, pakaian, dan bahkan personal hygiene (kebersihan diri) nya, para tetangga lah yang terlibat langsung didalamnya.

Selain itu beliau juga mendapat santunan makanan pokok dari balai desa setiap satu minggu sekali. Diusianya yang sudah memasuki kepala delapan itu, beliau harus berjuang hidup sendiri. Suka duka beliau pendam sendiri tanpa ada satu patah katapun yang bisa beliau ceritakan ke anak-anaknya. Kabar yang entah kemana yang membuat mereka tak lagi ada disamping beliau.

Kelumpuhan yang dialami membuat beliau tidak bisa berbuat apa-apa dan sekedar memenuhi kebutuhan dirinya pun sudah tidak mampu lagi beliau lakukan. Rasa sungkan dan tak enak hati mungkin sering kali ada di hati beliau ketika ada tetangga yang mengurusnya. Tapi mau gimana lagi. Berpasrah diri dan bersyukur mungkin yang akan menjadi satu-satunya solusi. Nrimo Ing Pandum, istilah jawa itulah yang menggambarkan isi hati beliau didalam menjalani lika liku kehidupan ini.

Harapan beliau tidak jauh dari satu hal ini. Beliau ingin anak-anaknya pulang dan tinggal bersama lagi digubuk sederhana itu.

Sehingga ada tempat yang bisa beliau jadikan sandaran untuk melewati masa-masa terakhirnya didunia. Melihat kisah simbah Sinem yang berjuang hidup sendiri ditengah-tengah kelumpuhan yang dialami, tegakah hati kita melihat nasib lansia yang seperti itu ? Mereka yang seharusnya bisa menikmati masa tua dengan menghabiskan waktu untuk bercerita dan berbagi pengalamannya semasa muda kepada anak dan cucunya, tapi mereka harus terbelenggu didalam kesendiriannya.

Bagaimana kalau hal itu terjadi sama malaikat tak bersayap kita. Kami yakin rasa tidak tega itu pasti menancap kuat dihati kita semua. Bagaimana bisa kita lihat orang tua yang sudah tidak berdaya harus menghadapi masa senjanya seorang diri apalagi dengan keterbatasan fisik ditubuhnya. Mari sisihkan sedikit dari rezeki yang kita miliki untuk menyantuni beliau ! Merapatlah kesini https://kitabisa.com/campaign/zakathafara .

Atau sampaikan cinta dan kasih sayang terbaikmu melalui:
BRI:664001015019539
An Lsh Hafara
InsyaAllah 100% amanahmu akan kami sampaikan. Bersama kita berjuang memuliakan hidup orang-orang malang diluar sana.

Admin Pusat