14 Mar
  • By Admin Pusat
  • Cause in

TEGARNYA SEORANG TUKANG BALON BERTAHAN HIDUP

 

Manusia diciptakan oleh – Nya, mempunyai akal dan fikiran untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, manusia diciptakan untuk beribadah, melakukan hal yang baik untuk sesama.

Namun dijaman sekarang ini akal dan fikiran manusia entah kemana, banyak ibu yang membuang buah hatinya, banyak anak yang membunuh orang tuanya, ntah hati nurani mereka dimana, ntah mungkin dunia sudah tua. Dulu orang tua disayang tapi sekarang banyak anak yang durhaka kepada orang tua Naudzubillah. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik – baiknya.” (QS : Al – Isra’ : 23)

Orang tua bekerja keras membanting tulang, agar anak – anak tidak merasa susah. Apalagi seorang ibu, Ibu yang melahirkan didunia, ibu yang mempertaruhkan nyawa, ibu yang telah memberikan jiwa dan raga untuk anaknya, “Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian. (Kahlil Gibran)

Sedangkan Ayah sebagai pelindung anak – anaknya, ayah sebagai motor penggerak keluarga. Ayah bercucuran keringat untuk membahagiakan anak – anak dan keluarganya. Memang tak ada hari Ayah, tapi cinta dan kasih ayah selalu ada untuk kita. “Ayahkan ku ingat selalu pengorbanan yang engkau berikan”. Sebuah lirik yang manandakan kerinduan anak terhadap seorang ayah. Semoga kita selalu mengingat orang tua kita dan selalu berbakti kepada kepada mereka, ingat ketika mereka sudah tak ada, bagaimana kita akan membahagiakan orang tua kita, hanya lantunan doa yang kita bisa lakukan.

Seperti halnya, dengan bapak yang satu ini bernama Pak Gayeng atau Pak Giman. Meskipun dalam keadaan yang serba kekurangan, beliau tetap semangat dalam menjalani hidup. Hidup memang keras tapi harus tetap dijalani, “saut bapak Gayeng!

 

Bertahun – bertahun hidup dijalanan, merasakan bagaimana kerasnya jalanan.

Bagaimana berteman dengan debu asap, bagaimana berteman dengan musisi jalanan, bagaimana rasanya siang – siang kepanasan, haus, kelaparan hanya satu bungkus plastik es teh manis mampu mengobati rasa dahaga dan lapar. Itulah hidup selalu ada proses, dan proses itu tidak menghianati. “Sungguh seorang mukmin amat menakjubkan, segala urusannya amat baik baginya dan hal itu tidak terdapat kesenangan, maka ia beryukur, tentunya hal itu amat baik bagi dirinya. Jika mendapat kemalangan, maka ia bersabar, tentunya hal itu amat baik baginya”. (H.R Muslim)

Balon – balon sederhana, pak Gayeng jajakan berharap nantinya ada selembar uang berwarna ungu alias sepuluh ribu rupiah, untuk menyambung hidupnya, untuk makan, belum lagi menyisihkan sedikit untuk membayar kontrakannya. Balon yang dijajakan pun berwarna – warni seperti kehidupan. Hidup yang baginya sulit tetapi ia harus kuat menjalaninya. Inilah dia seorang Pak Gayeng seorang bapak dengan keterbatasan yang selalu ingin berjuang sendiri tanpa mengadahkan telapak tangannya. “ Nabi Muhammad SAW bersabda : Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik – baiknya sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barang siapa menjaga kehormatan dirinya maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya”. (HR. Bukhori dan Muslim)

 

Baginya tangan mengadah tidak ada dalam rumus kehidupan pak Gayeng, Jualan balon baginya dapat menyenangkan hati banyak anak – anak, Ya pak Gayeng sebenarnya mempunyai anak perempuan, namun sayang karena dari segi ekonomi kurang, pak Gayeng dengan terpaksa menyerahkan anaknya dirawat oleh saudara. “Daripada anakku ra kopen mas”, (daripada anakku tidak terawat mas), meskipun jauh dengan anak, tetapi anaknya selalu mengunjungi Pak Gayeng. Semoga saya selalu sehat mas dan mampu bertahan dengan keterbatasan ini. “Dan kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kemampuannya, dan pada Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan)”. (QS. Al – Mukminum : 62 )

Ditempat kontrakan yang sangat sederhana, Pak Gayeng tinggal, hanya ditemani dengan kipas sederhana, peralatan sederhana, yang penting sudah bisa berteduhpun, Pak Gayeng sudah merasa bersyukur.

Bersyukur menerima keadaan, tanpa mengenal nyerah itulah rasa bersyukur pak Gayeng terhadap hidupnya yang ia jalani sekarang.

Setiap hari pak Gayeng menjajakan balon dagangannya di pinggir jalanan, kadang disekolah, kadang ditempat keramainan yang banyak anak – anaknya, balon yang dijualpun tak begitu menarik, karena sangat sederhananya, balon – balon itu hanya berwarna – warni tidak begitu menarik dengan balon – balon yang dijual di toko maupun asesoris.

Tapi yang namanya usaha apapun akan dilakukan oleh pak Gayeng. Karena dengan begitu alur kehidupan pak Gayeng tetap berjalan.
Disuatu hari memang pak Gayeng merasa Allah mungkin tak adil, “ Kenapa hidup saya yang sudah begini, keadaan saya yang kekurangan tapi ditambah masalah ekonomi.

Ingin rasanya saya….Tetapi seketika itu saya beristigfar, Astagfirullahaladzim! Maafkan Hambamu ini ya Robb yang semakin hari semakin berdosa. Allahuakbar, merinding rasanya mendengar keluh kesah seorang bapak kuat yang berjuang melawan hidup yang keras ini. Tetapi beliau tetap kuat menjalaninya.

Apakah kita tidak akan malu dengan keluhan kita, tidaklah kita melihat sedikit perjuangan Bapak Gayeng, mari bersama intropeksi diri menjadi yang lebih baik dengan klik https://kitabisa.com/zakathafara

Admin Pusat