12 Dec
  • By Admin Pusat
  • Cause in

Stroke yang Menyerangku tidak Membuat Hilang Nikmat Hidupku

Hidup memang mengajarkan kita bagaimana caranya mensyukuri nikmat. Berbagai macam nikmat yang Allah berikan di kehidupan yang terkadang tidak semua orang mampu melihatnya. Baik itu nikmat rezeki, nikmat mempunyai keluarga, maupun nikmat sehat. Salah satu nikmat yang sering orang tidak menyadarinya yaitu nikmat selalu diberinya kesehatan. Nikmat sehat akan lebih terasa ketika sedang mengalami sakit.

Di kehidupan yang semakin maju ini mungkin akan banyak sekali kita temui orang lanjut usia yang terpaksa harus istirahat dari semua aktivitasnya akibat serangan penyakit yang datang tiba-tiba.

Iya penyakit stroke yang sering menyerang sebagian pralansia ini memang menjadi momok yang sangat menakutkan. Maka tak jarang dari mereka yang menasehati anak cucunya untuk lebih menjaga pola makan dan pola hidup sehat sejak usia muda. Penyakit stroke yang menyerang orang yang kehidupan ekonominya mendukung mungkin tidak akan menjadi suatu beban yang teramat berat. Berobat dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari masih bisa tercukupi.

Namun, apabila penyakit stroke ini menyerang seseorang yang notabennya berada di keadaan ekonomi yang memperihatinkan. Akan seberapa berat beban hidup yang dialaminya ? Nasib malang yang dialami oleh seorang bapak di Dusun Tegalurung RT.05, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Beliau bapak Giyono namanya. Salah satu dampingan luar Hafara yang sejak 4 tahun yang lalu harus menghabiskan hari-harinya dengan berdiam diri di rumah akibat stroke yang menyerangnya.

Kecelakaan 4 tahun yang lalu itu berawal ketika beliau hendak pergi ke kebun belakang rumah.

Musim hujan sedang datang di kala itu yang menjadikan permukaan tanahnya licin. Tanpa disadari beliau pun tiba-tiba terpeleset dan seketika itu seluruh badannya tidak mampu digerakkan. Ketika salah seorang saudaranya hendak membantunya berdiri beliau sudah tidak mampu melakukannya lagi. Sejak saat itulah seluruh badan beliau hilang rasa dan tidak mampu merespon apa-apa. Hanya satu tangan kanannya yang masih bisa beliau gerakkan. Perasaan syok tentu menempel kuat di hati beliau kala itu.

Hanya melalui kecelakaan kecil yang tidak pernah beliau sangka sebelumnya menjadi perantara Allah untuk menguji kehidupannya. Dengan ikhlas hati yang tinggi beliaupun harus rela istirahat dari pekerjaan rutinnya yaitu menjadi tukang becak. Dimana pekerjaan itulah satu-satunya sumber rezeki yang bisa beliau gali setiap hari. Dengan ujian stroke yang menghampiri, beliaupun sudah tidak mampu lagi mencari nafkah untuk kebutuhan hidupnya.

Bapak Giyono hidup empat bersaudara dan beliau anak terakhir dari almarhum kedua orang tuanya.

Iya kepulangan kedua orang tua ke pangkuan Illahi ketika usia beliau 20 tahun itu memang menjadikan beliau harus mandiri dan mampu mengais rezeki sendiri. Ditambah ketiga kakaknya yang sudah menjalani kehidupan rumah tangganya masing-masing. Saat ini beliau tinggal bersama kakak angkat dan juga keponakannya. Mereka lah orang yang setiap hari membantu beliau memenuhi kebutuhannya setiap hari. Baik itu kebutuhan diri maupun kebutuhan makan.

Jauh di lubuk hati beliau sebenarnya tidak mau merepotkan orang-orang yang ada di sekitarnya, tapi apa boleh buat dengan keadaannya yang seperti itu membuat beliau harus meminta bantuan untuk memenuhi kebutuhannya. “Dingapunten geh mas, mbak”. Kata-kata itulah yang kerap kali beliau ucapkan ke kami dengan pengejaan yang tidak begitu jelas dan terbata-bata. Ketika kami mengunjunginya hari Rabu, 4 Desember 2019 kemarin.

Stroke yang sebagian besar menyerang tubuhnya juga membuat beliau kesusahan dalam berbicara. Namun, meskipun ucapan itu tidak begitu jelas terdengar kami sangat bisa memaknai maksud hati beliau. Meskipun hidup di dalam keadaan yang tidak mampu berbuat apa-apa namun hati beliau masih berfungsi dengan baik. Dimana ucapan maaf selalu beliau katakan kepada setiap orang yang datang menjenguknya terlebih orang yang setiap hari merawatnya.

Hidup didalam keterbatasan dan kesederhanaan tidak membuat beliau berputus asa untuk terus mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Beliau tetap menjalaninya dengan bahagia dan ikhlas hati yang tinggi. Sahabat, menyikapi dengan baik setiap ujian hidup yang kita alami memang suatu hal yang tidak mudah. Banyak dari kita yang memilih mundur dan menyerah ketika berada di tengah-tengah ujian hidup.

Namun hal lain yang dilakukan seorang bapak Giyono. Beliau tetap ikhlas menerima dan menjalaninya semua ujianNya. Mari ulurkan tangan kita melalui ini https://kitabisa.com/campaign/zakathafara untuk sedikit meringankan beban hidup yang dialami bapak Giyono. Wujudkan rasa syukur kita atas nikmat melimpah yang selalu Allah beri dengan menebar kebaikan dan membantu saudara kita yang membutuhkan. Semoga Allah selalu menguatkan langkah kita bergerak di dalam kebaikan. Amin

Admin Pusat