13 May
  • By Admin Pusat
  • Cause in

SECARIK CERITAKU SAAT MENGINJAK REMAJA

Saatku menginjak remaja..

Di waktu teman-teman sebayaku menikmati masa-masa perjalanan yang dulunya dikatakan masih kanak-kanak dan kini saatnya di panggil remaja, selalu di damping oleh Sang Malaikat tak bersayap. Saran, pujian, nasehat selalu di katakankannya, sangat berberda dengan nasip ku. Ialah Livia Angraeni, perempuan cantik yang bertempat tinggal di Kepoh Rt 03 Wirokereten, Banguntapan, Bantul. Masa remaja ku yang di temani oleh kesunyian. Ya, karena belum lama ini Ibu meninggalkan ku untuk selama-lamanya. Tak bisa menawar seakan sudah di gariskan begitu saja. Waktu, yang selama ini jadi penakutku malam berganti pagi , dan saatnya tlah tiba Ibu lebih di sayang oleh Allah SWT.

“Sekarang Ibu sudah tak merasakan sakit lagi mbak” kata Livia sambil berkaca-kaca, dan pikiran yang selalu ingat kepada Ibunya

Hanya tinggal kenangan, dan hanya foto yang sekarang bisa di lihat oleh Livia. Karena sejak bulan desember 2018 Ibunda Livia mengalami pengeroposan tulang. Tindakan terapi selalu di jalaninya, ikhtiar dan do’a selalu beliau panjatkan untuk meminta sembuh kepada Nya. Namun ujian hidup Ibunda Livia yang sering di panggil dengan Ibu Juminten tak sampai disini. Sang Maha Pencipta masih memberi ujian, setelah menjalani operasi tulang Ibu Juminten harus mengalami sakit kanker payudara stadium 4.

Astagfirullah…

Hanya bisa berbaring menahan sakit, di ranjang yang sangat sederhana, di sekotak kamar kontrakannya. Miris sekali hati ini mendengar cerita dik Livia sewaktu Ibundanya masih ada. Setiap pagi harus merawat Ibundanya dari menyuapi, memandikan, sampai obat yang harus di konsumsi Ibundanya Livia yang harus menyiapkan. Karena Pak Suharno Bapak kandung Livia harus merawat adiknya Livia yang masih berumur 9 bulan. Belum lagi harus mempersiapkan bakso yang setiap hari di jual dengan grobak sederhana dan mengelelilingi perkampungan.

Tetapi akhir-akhir ini Pak Suharno, harus rela tak berjuan karena harus merawat istrinya yang sedang sakit keras. Makan seadanya, sampai sampai Pak Suharno mengalami sakit gula dan asam urat. Tapi bagaimana lagi beliau kepala keluarga menahan sakit demi anak dan istrinya agar bisa sembuh dulu. Kasihan ketika melihat bapak harus menahan sakit dan  berjuang menahan panas teriknya matahari untuk menjajakan baksonya, agar kami bisa makan.

Melihat ibu yang berupaya untuk melawan sakitnya, tetapi saat ini Ibu sudah tenang di sisi Nya. Meskipun hati ini sedih, hati ini sangat hancur, tapi harus mengikhlaskan semua agar Ibu bahagia di sana. Ibu sudah tenang, dan akupun sudah ikhlas. Hanya satu tekadku

“Aku ingin membuat Ibu dan Ayah bangga, dengan aku menjadi anak pintar dan sholehah apa yang menjadi impian Ibu dan Ayah.

Hanya senyuman dan doa yang bisa mengantarkan ibuku untuk di tempat yang lebih layak

MasyaAllah Livia perempuan kecil cantik yang berhati lembut sangatlah ikhlas menjalaini hidupnya

Bagaimana dengan kamu ??

Masihkah ingin mengeluh karena egomu belum terpenuhi ??

Ingatlah..!!

Hidup di dunia ini hanyalah sementara, masih ada kehidupan abadi yang menanti kita kelak

Tetap tebarkan benih-benih kebaikan

Dengan klik https://kitabisa.com/zakathafara

 

 

Admin Pusat