27 Feb
  • By Admin Pusat
  • Cause in

SEBUAH UPAYA MEMPERJUANGKAN KESEMBUHAN JIWA

Hari yang terik dan lengas adalah kondisi yang sangat cocok untuk bermalas-malasan. Namun, tidak demikian bagi Tim Relawan Hafara. Siang itu, dengan menggunakan mobil ambulance, Tim Relawan Hafara menyusuri jalanan perbukitan Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Berbekal laporan masyarakat dan tekad menyelamatkan jiwa sesama manusia, kami meluncur menuju kecamatan Wonosari. Kami mengupayakan penjemputan dan pengadvokasian salah satu orang dengan gangguan jiwa. Orang yang kami jemput itu adalah seorang perempuan bernama Dwi. Ia mengalami gangguan jiwa sekitar 5 tahun yang lalu. Ia tinggal menyendiri di sebuah rumah berdinding anyaman bambu berwarna putih. Rumah itu berdekatan dengan rumah kedua orang tuanya.

Bapak Dwi seorang mantan sopir. Berkali-kali ia membantu tetangganya untuk mengantarkan orang-orang dengan gangguan jiwa. Namun, ada saja perasaan getir yang teramat sangat ketika mau mengantarkan anak perempuannya sendiri menuju rumah sakit jiwa. Hingga akhirnya ia menghubungi Tim Relawan hafara untuk meminta bantuan. “Saya ndak tahu juga ya, Mas. Saya itu sering mengantarkan berobat para tetangga yang punya masalah kejiwaan. Tapi saat yang mempunyai gangguan kejiwaan itu anak saya sendiri kok saya ndak tega. Benar-benar ndak tega saya, Mas…” kata Bapak Dwi kepada salah seorang Tim Relawan Hafara sembari menahan air mata yang nyaris jebol. “Nggih, Pak. Memang ada sesuatu yang berbeda ketika itu menimpa anak kandung sendiri..”

Dwi adalah perempuan cerdas. Sewaktu SMEA ia kerap menyabet prestasi-prestasi di sekolah. Sebagai seorang hamba, ia adalah hamba yang rajin dan taat beribadah. Selepas lulus SMEA, ia pergi ke Jakarta untuk bekerja. Di Jakarta ia mengalami banyak hal yang tidak sesuai harapan. Benturan-benturan itu semakin lama kian menumpuk dan berjejal di pikiran Dwi. Hingga pada akhirnya ia pulang ke Jogja dan bekerja di sebuah pabrik pakaian. Sewaktu pulang dari Jakarta itulah orang tua Dwi merasakan ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak baik-baik saja sedang menggerogoti kewarasannya.

“Dia sering ngomong nggak jelas, Mas. Omongannya nggak beraturan. Tapi dia bisa masak, bisa naik motor juga. Bahkan, sewaktu kerja di pabrik ia sempat kredit motor sampai lunas. Masa orang yang nggak waras bisa kayak gitu? Tapi ya gimana. Nggak nyangka saya, Mas.” ucap Ibu Dwi dengan suara lirih dan agak serak seperti tersumbat kepiluan yang amat menyesakkan.

Mendengar penjelasan Ibu Dwi, Tim Relawan Hafara hampir kehabisan kata. Tim Relawan Hafara hanya mampu berdoa sembari bergerak melakukan advokasi terbaik untuk pengobatan Dwi. Dwi sehari-hari menjalani hidupnya dengan menutup diri. Sekedar berbincang basa-basi dengan orang lain pun tak pernah ia lakukan. Terlebih bercerita tentang masalah yang pelan-pelan melemahkan kewarasannya. Orang tuanya pun tak tahu apa masalah yang menimpa Dwi sebenarnya.

Saat awal penjemputan, Dwi menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Ia merasa baik-baik saja. Ia merasa tak ada yang salah dengan dirinya. Ia tak merasa sakit. Dengan penuh kesabaran dan pengertian, Tim Hafara beserta keluarga Dwi membimbing perempuan itu untuk masuk ke dalam ambulance Hafara. “Mboten, Pak. Kula mboten kenapa-napa. Kula sehat, Pak” kata Dwi sembari berontak. “Ndhuk, anakku sing ayu, manuta ya, Ndhuk. Bapak-bapak iki ora arep nglarani kowe, Ndhuk….” bujuk orang tua Dwi. “Mboten! Kula mboten purun dibeta ten pundi-pundi. Kula ngantuk. Kula ajeng bobok rumiyin…”

Akhirnya dengan persetujuan keluarga, Dwi dibopong menuju ke dalam mobil. Mobil ambulance itu kini berisi Tim Relawan Hafara, Dwi dan ibu Dwi yang sangat menyayanginya. Ambulance itu pelan-pelan menambah kecepatannya menyusuri jalan Wonosari menuju Rumah Sakit Jiwa Ghrasia. Di belakang ambulance itu terlihat mobil putih yang membuntuti. Mobil putih yang berisi keluarga Dwi. Keluarga yang sangat menyayangi Dwi sepenuh kasih.

Begitu sampai di rumah sakit, Dwi segera didaftarkan agar ia bisa menjalani pemeriksaan kesehatan berikut pengobatannya. Lelah itu pasti. Namun, semangat untuk menyelamatkan sesama manusia ternyata mampu mengubah rasa lelah menjadi kebahagiaan tersendiri di hati kami. Setelah semua prosedur selesai diurus, Tim Relawan Hafara berpamitan kepada keluarga Dwi.

“Matur nuwun nggih, Mas. Kula niki mboten ngertos carane ngurus-ngurus ten rumah sakit. Nggih, mugi-mugi Tuhan membalas perbuatan baik panjenengan sedaya, Mas…” ucap Bapak Dwi kepada Tim Relawan Hafara dengan intonasi suara lebih bersemangat dan wajah lebih berseri-seri dari sebelumnya. Yuk berlomba lomba berbuat kebaikan memanusiakan manusia.(PN)

 

Admin Pusat