12 Sep
  • By Admin Pusat
  • Cause in

SALAM RINDU UNTUK LATAR GUBUKKU

Bapak pemilik rumah berlatar keramik ? Sudahkah nyaman dengan istirahatmu hari ini ? Hidup bergaya borju, mobil mewah, berpakaian super merk, makanan restaurant bintang lima, kesana – kemari menghabiskan uang. Rumah begitu megah dengan mbak – mbak pembantu yang begitu banyaknya.

 

Nyamankah ?

Sudah berapa tahun engkau menyimpan tabunganmu dibawah kasur atau kamu menyimpan uangmu di celah – celah saku celana mu ? Sudah banyakkah uangmu untuk saudara diluar sana ? Sudah banyakkah keringat kalian mengucur deras untuk kamu berjuang hidup ? Masihkah kalian terus merasa kekurangan padahal semua sudah tersedia di depan matamu. Tak pernahkah ?

Terlintaskah difikiran kalian? Nasib orang-orang yang mendambakan indahnya hidup bercukupan, mempunyai rumah yang begitu kokoh dengan keramik yang begitu menggemaskan. Namun apa daya mereka hanya bisa mendambakan saja, realitanya kolong jembatan masih menjadi tempat terbaik untuk mereka, emperan toko yang menjadi favorit tidur malam mereka.

Nasib kurang beruntung. Menaungi Simbah yang berumur 90 tahun bernama Sandi Utomo yang beralamat di Ngajaran Rt.05 Sidomulyo Bambanglipuro Bantul. Berimimpi mempunyai rumah bak istana pun simbah tak berani. Bagaimana berani , rumah simbah sampai detik ini tak kunjung berdiri. Gempa 13 tahun lalu menjadi saksi betapa hebatnya guncangan itu.

Roboh, tak berbekas rata dengan tanah.
Terus bagaimana simbah berlindung dari panas dinginnya hari ?

Tuhan Maha adil, orangbaik dikirimNya untuk simbah Sandi. Bapak RT yang mempunyai hati baik itu rela menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi Simbah. Dimana anak – anak simbah ? Simbah hidup sendiri tanpa ada keluarga yang menemani. Suaminya sudah lama pulang kehadirat Tuhan. Mempunyai Anak semata wayangnya sudah hampir 30 tahun pergi dan tidak pernah ada kabar sedikitpun apalagi untuk pulang menemuinya.

Hancur hati simbah.

Sudah ditinggal anaknya, kini rumah tak punya. Usianya yang sudah hampir satu abad harus menanggung semua beban yang ada dipundaknya. Tak hanya itu simbah Sandi dengan segala keterbatasannya harus mengandalkan bantuan sebuah tongkat. Rindu akan rumah, rindu akan kejadian-kejadian indah. Rindu akan kehadiran orang-orang tersayang disampingnya. Menemani masa-masa rentanya sampai ajal menjemputnya. Rindu, rindu dan rindu.

Meneteskan air mata di pipi.

Tapi, beliau bisa apa. Tidak mungkin juga membenahi rumahnya dengan keadaan dan usia yang sudah serenta itu. Hanya berharap dengan orang – orang baik diluar sana dan orang serba kecukupan yang memiliki keramik yang begitu indahnya.

Menjadi kenangan.

Simbah Sandi masih sering membersihkan latar halaman sekitar rumahnya dan membereskan sisa-sisa bangunan disana.

Tak pernah dendam namun rindu akan memori fikiran beliau. Apalagi semua kenangan indah yang pernah terjadi di istana itu, seolah sudah tidak bisa dipisahkan lagi dari fikiran beliau.

Ingin mengumpulkan percahan mimpi itu, Istana atau gubuk yang dirindu…

Kalian, apakah masih menyimpan ego yang begitu tinggi, tak maukah badanmu membungkuk, tak mau kah tanganmu untuk menggengamnya erat. Masihkah kalian hanya berdemo dengan diri kalian, bahwa hidup kalian berkurang dan berkurang. Dompetmu tebal apakah hanya kau simpan sendiri sembari menanti pergi ?

Sebelum terlambat, wahai pemilik deposit, mari dengan segala kerendahan hati ringankan beban saudara kita diluar sana yang membutuhkan uluran tangan kita. Karena Berbuat baik itu tidak harus menunggu jadi orang baik. Dengan berbuat baik, Keberkahan akan menemui kita. Bergeraklah !!!Bersama kami https://kitabisa.com/zakathafara. Berjuang dan terus berjuang memanusiakan manusia. Allahu akbar…

Admin Pusat