25 Feb
  • By Admin Pusat
  • Cause in

SAKIT JIWANYA SEMBUH BERKAT DOA SEORANG IBU

Siang itu menjadi hari yang begitu cerah bagi Jumilah. Doa yang dipanjatkannya setiap hari telah mendapatkan jawaban. Kegelisahan yang selalu menghantui tidurnya rasanya hilang begitu saja saat melihat seorang laki-laki dengan menggunakan baju koko, celana panjang dan peci berdiri di depan rumahnya. Jumilah menaruh sepedanya dengan tergesa-gesa dan sedikit berlari menghampiri laki-laki di depan rumah lantas memeluknya erat. Air mata bahagia seketika tumpah saat memeluk anak lelakinya. Lelaki itu adalah Parman, salah satu warga dampingan di Pondok Hafara. Kondisi mental dan psikisnya yang mengalami kemajuan membuat lelaki yang murah senyum itu diperbolehkan pulang menjengguk ibunya yang tinggal di daerah Kretek, Bantul.

“Ibu itu kangen banget sama kamu, le… Tiap hari kok kepikiran kamu terus, tapi kalau mau jenguk ke sana nggak ada yang nganter.” Kata Jumilah sambil menepuk pundak Parman. “Aku juga kangen.. suka kepikiran sama rumah.” Kata Parman yang sudah delapan bulan berada di Hafara. “Mari mbak, pak, monggo pinarak! Ya rumahnya keadaannya memang cuma seperti ini.” Kata ibu Parman kepada kami tim relawan Hafara. Binar wajah bahagia jelas tergambar di wajah perempuan berumur lebih dari setengah abad itu. Beliau menceritakan betapa dirinya rindu kepada anak keduanya tersebut. Setiap hari dirinya dihantui oleh kegelisahan akan kondisi Parman. Masih tergambar jelas di memorinya kondisi Parman sebelum dibawa ke Pondok Hafara. Parman yang telah menjadi yatim sejak usia dua bulan, mengalami depresi sehingga membuat emosinya tidak terkendali.

Kondisi tersebut membuat keluarga dan para tetangganya khawatir. “Dulu itu semua pada takut, kalau sudah lihat Parman. Kadang suka ngamuk.” Cerita salah seorang tetangga saat kami mengantar Parman berkeliling desanya untuk bersilaturahmi. “Tapi sekarang ya seneng banget, lega, lihat dia sudah membaik seperti ini.” Kata tetangga yang lainnya.

Kepulangan Parman siang itu seperti menambah sejuknya udara di desa kelahirannya tersebut. Keluarga, saudara dan tetangga menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Kami mengantar Parman untuk berkeliling desa dan menyapa saudara dan para tetangganya. “Parman sekarang kondisinya mulai membaik, ngajinya juga fasih.” Kata Pak Ngadiyo, salah satu tim relawan Hafara memberikan laporan perkembangan Parman. “Saya itu sangat bersyukur, bisa lihat kondisi Parman mengalami peningkatan, diantar njenguk rumah juga. Syukur-syukur nantinya dia dapat jodoh disana.” Kata Jumilah dengan tersenyum penuh harap. Parman yang mendengar percakapan kami tersenyum malu. “Amin, bu. Tuhan pasti juga sudah menyiapkan jodoh yang terbaik buat Parman.”Jawab Pak Ngadiyo sambil tersenyum. Tangannya mengambil gelas berisikan teh panas buatan Parman.

Matahari bergerak perlahan namun pasti mendekati senja. Rasanya menjadi waktu yang berat bagi seorang ibu untuk melepas anaknya lagi, namun semua itu dia ikhlaskan demi kebaikan sang anak tercinta. Setidaknya hari itu rindunya telah terobati. Tak ada lagi kegelisahan yang mengganggu tidurnya. Parman kembali ke Pondok Hafara untuk menjalani terapi dan sang ibu kembali disibukkan oleh sawahnya yang sedang panen. Harapan seorang ibu adalah doa bagi anaknya. Seburuk apapun kondisi sang anak, seorang ibu akan terus berjuang demi kebaikan buah hati tercintanya. Walau harus tinggal di tempat terpisah, doa seorang ibu akan terus menyertai langkahnya. Sahabat jangan pernah lelah berbuat kebaikkan.Mari bersama memanusiakan manusia. (PN)

Admin Pusat