29 Dec
  • By Admin Pusat
  • Cause in

Rehat sejenak di rumah singgah Panti Hafara

Satu semester sudah saya sempat berpisah dengan keluarga saya disini. Genggam-genggam yg masih hangat melekat di tangan, ketika sempat dibuai selimut beton Ibu kota. Pengalaman volunteer yang menjadi sekolah hidup tidak dapat ditutup dengan ucapan selamat tinggal. Maka sambut hangat dan rindu yg terungkap, membuat kembali saya ini sungguh berkesan.

Lama saya melamun, menatap air yang mengucur di pinggir mushola. Merajut kembali ingatan tentang bahagia yg tercipta dari manusia yg mengejar sembuh jiwanya. Ini sungguh obat ampuh dari buta tentang dunia akhir-akhir ini. Tak ada pembicaraan politik, konspirasi ataupun faham lain di luar diri. Ini cermin, sungguh pantulan nyata tentang malu.

Manusia, kamu kenapa?

Apa yang amu cari?

Apa yang selama ini kamu kejar?

Apa sesungguhnya yang berharga dimatamu?

Dan sejuta pertanyaan yg membuat kelu lidah. Saya bungkam, tak bisa berteriak bahkan berkilah dengan pembelaan pribadi.
Pasrah saya dipukul-pukul kenyataan. Pribadi-pribadi hebat yg rela berkaul dengan vertikalnya untuk mengejar sehat jiwa. Sedang saya yg (menurut saya) sehat jiwa justru ter-rantai dan pasrah dikejar dengan gulungan tuntutan dunia. Saya menyatakan diri saya ‘sakit’ lagi detik ini.

Mendengar lantunan ayat suci al-quran, canda khas warga dampingan, air yg mengucur, angin yg menarungkan batang bambu, dan kicau burung.. apa lagi? Ini tamparan luar biasa dan sekejap saya lupa dunia luar. Ini yg harusnya disebut dengan dunia, kombinasi alam manusia yang menyuarakan pencipta.
Ah.. rumah.
Kembali saya menemukannya disini. Saya mengawali volunteering saya disini dan izinkan saya kembali suatu hari nanti untuk menyembuhkan ‘sakit’ pribadi.
(Ditulis oleh Syamarda Swandyka, salah satu relawan Panti Hafara)

Admin Pusat