09 Nov
  • By Admin Pusat
  • Cause in

PERJUANGAN SEORANG PEMBATIK UNTUK ANAK PIATU YANG DIBUANG AYAHNYA

Langit masih berwarna merah. Sang fajar belum terlihat menyapa. Namun Mutmainah sudah terbangun. Dengan berbekal nyala lampu 5 watt di dapurnya, ia mulai mengambil kayu bakar dan membakarnya di tungku. Ceret berwarna hitam, yang susah dibedakan antara warna arang atau tempat menjerang air, ia naikkan ke perapian. Lalu ia menyalakan tungku yang lain. Kali ini bukan ceret yang ia naikkan ke tungku kecil. Namun wajan kecil berisi malam. Malam adalah lilin yang digunakan untuk membatik. Pelan tapi pasti, tangan-tangan keriput Mutmainah menari diatas kain katun yang sudah dipasang untuk dibatik. Ia harus menyelesaikan batik itu jika ingin mendapatkan gaji.

Dari selembar kain berukuran 2 meter yang ia beli seharga 50 ribu, ia buat motif menggunakan 1 kg malam seharga 25 ribu.

Ia kerjakan berhari-hari dan laku dijual seharga 100 ribu. Dari 1 lembar kain tersebut ia untung 25 ribu. Memang, keuntungan itu kadang terasa tidak sebanding dengan kerja kerasnya. Namun apa boleh buat, hanya itu yang dapat dia usahakan untuk menghasilkan uang tunai, guna membiayai sekolah Fajar.

Sedangkan untuk makan sehari-hari, ia dapatkan dari hasil kebun. Bersyukur alam menyediakan kebutuhan mereka sehari-hari. Ia yang hanya seorang perempuan paruh baya, yang tinggal sebatang kara, harus menghidupi keponakannya. Fajar adalah anak dari adiknya. Adiknya meninggal beberapa saat setelah melahirkan Fajar. Sedangkan ayah Fajar, pergi dengan perempuan lain saat istrinya sekarat.

Maka, Mutmainahlah yang membesarkan Fajar semenjak di tinggal ibunya hingga saat ini.

Memang, asal mau makan apa hasil kebun tidak akan menjadi beban. Tapi menyekolahkan anak itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Fajar kini kelas 5 SD. Di sekolahnya akan diadakan karya wisata ke Semarang dengan biaya yang tidak sedikit. Fajar memang sudah menabung jauh-jauh hari. Namun apa daya, tabungan yang Fajar kumpulkan belum cukup untuk biaya itu.

Jangankan untuk karya wisata, Mutmainah sering mengelus dada karena tidak bisa memberi uang saku untuk untuk keponakannya. Pemerintah memang memiliki banyak program untuk rakyat yang tidak mampu, seperti PKH dan PIP. Sayangnya Fajar belum merasakan manfaat dari program-program tersebut. Bukan, bukan karena mereka dianggap orang kaya. Tapi karena Fajar tidak punya Kartu Keluarga.

Ibunya yang sudah meninggal dan ayahnya yang sudah pergi dengan perempuan lain, membuatnya tidak bisa mengakses identitas yang seharusnya menjadi haknya.

Mutmainah kembali memainkan tangannya, sesekali mengaduk lilin, mengambil canting dan membuat motif di kain yang sedang dikerjakannya. Tapi tak jarang juga ia menyeka air mata. Membayangkan, apakah esok ia hanya mampu memberikan sarapan yang layak untuk Fajar ataukah tidak. Sampai akhirnya adzan shubuh berkumandang, membuyarkan lamunan Mutmainah.

Sahabat, pernahkah kalian merasakan kesedihan seperti yang dirasakan Mutmainah. Betapa sedihnya membayangkan anak-anak kita, adik-adik kita, hanya bisa melihat temanya jajan, sedangkan dia hanya bias gigit jari. Sedih sekali bukan. Sahabat mari bantu Fajar untuk tetap sekolah dengan cara klik https://kitabisa.com/campaign/bantudhuafaterlantar

Atau sampaikan cinta dan kasih sayang terbaikmu melalui:
REKENING RESMI
BRI:664001015019539
An Lsh Hafara

Menurut Surat Al-Baqarah ayat 261, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” Semoga, dengan membantu Fajar, kehidupan anak cucu kita tidak merasakan hal yang menyedihkan seperti ini. Amiin

Jangan pernah lelah menjadi #orangbaik belajar memanusiakan manusia.

Admin Pusat