11 Mar
  • By Admin Pusat
  • Cause in

PEMURAH HATI TENTRAMKAN JIWA

PEMURAH HATI TENTRAMKAN JIWA

 

Tentramnya jiwa karena kita mampu mengatur hati kita, mampu mengolah hati kita menjadi bahagia, bahagia karena kita saling bersinergi dengan sesama yang membutuhkan, karena dengan begitu kita akan merasakan kebahagiaan seutuhnya jika kita saling berbagi dengan sesama.

Siang itu dengan semangat tinggi, langkah kaki, hati kami tertuju ke salah satu lansia yang membutuhkan uluran tangan kita, yang ingin kita rangkul, kita dampingi, kita sayangi. Keadaan mereka yang memperlihatkan mereka berjuang hidup, kulit keriput, rambut memutih, lemah tak berdaya, yang memperlihatkan mereka menginginkan kemurahan hati kita.

Simbah Boyem, Simbah Sunarwiyono Loso, Simbah Pojoyo mereka adalah kakak beradik yang sekarang tinggal dalam satu rumah yang sederhana beralamat di daerah kota Bantul. Simbah Boyem simbah yang berumur 76 tahun harus menerima jika dimasa tuanya tidak ada teman hidup, tidak ada teman untuk dijadikan sandaran, ya dimasa tuanya kini mbah Boyem terbatas untuk bergerak, bukan kenapa, mbah Boyem dulunya mengalami jatuh, memang sudah diperiksakan ke rumah sakit, karena dulu nya tidak mempunyai biaya ya sudah beliau menerima nasib, mbah Boyem sekarang hanya bisa ngelosot. Sementara mbah Boyem hanya bisa ngelosot, mbah Pojoyo saudara perempuannya lebih beruntung karena beliau masih bisa berjalan meskipun harus di tatah atau (di dampingi ). Sedangkan mbah Sunar harus lagi menerima nasib karena memang usia sudah tidak bisa ditolak ditambah dengan sakit yang diderita kini mbah Sunar harus terbaring lemah di ranjang sederhananya. Mbah Boyem dan mbah Pojoyo, simbah dengan usia senja yang hidup tanpa teman hidup mereka, mereka hanya mengandalkan ponakan yang bernama Sutarjo.

Sutarjo adalah anak tunggal dari mbah Sunarwiyono yang sehari – harinya harus membagi waktu dengan keluarga dan orang tuanya. Ya kebutuhan simbah Sunar, mbah Boyem, dan mbah Pojoyo sontak menjadi tanggung jawab sepenuhnya pak Sutarjo karena dengan ini pak Sutarjo bisa memberikan perhatian penuh karena baktinya kepada orang tua.
Pak Sutarjo adalah seorang petani dengan penghasilan yang dirasa cukup untuk kebutuhan makan saja. Dimata beliau mbah Boyem, mbah Sunarwiyono, mbah Pojoyo adalah orang tua yang harus dijaga sampai titik penghabisannya. Setiap hari pak Sutarjo dan istrinya tak lupa selalu memandikan simbah Boyem, mbah Pojoyo, dan mbah Sunar, dengan kasih lembutnya mereka selalu memperhatikan orang tuanya, bagi mereka jika tidak mengurus adalah hal yang sangat berdosa.

Memang sangat sederhana sekali tempat tinggal mereka. Lha mau gimana lagi mbak,” saya syukuri “, yang penting orang tua saya bisa makan dan bisa berteduh disaat hujan maupun panas. Terkadang saya juga dibantu oleh tetangga untuk mengurus orang tua saya, kadang ada yang memberi makanan untuk orang tua saya, pokoknya saya syukuri mbak”, dari tetangga dan instansi pemerintah saya bersyukur karena sering dibantu, Bapak dan Budhe – budhe saya juga mempunyai jaminan BPJS.
Sangat bersyukur kondisi budhe – budhe saya alhamdulillah masih sehat meskipun saya agak sedih karena Bapak sekarang harus tergeletak diranjang tempat tidur.

Masihkah kita kurang bersyukur dengan keadaan kita, masihkah kita mengeluh. Mari kita turunkan ego jadilah pemurah hati disekeliling kita, bagaimana keadaan mereka, bagaimana mereka berjuang hidup, bagaimana mereka mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh – Nya.
Mereka yang sudah tua renta, sulit untuk bergerak saja masih selalu berusaha untuk melanjutkan hidup
Sedangkan kamu yang masih kuat berusaha, apakah tidak terketuk ??
Melihat kondisi mereka yang memprihatinkan, sedangkan kamu saja bisa tertawa riang di luar sana
Mari kita Bersama-sama ulurkan tangan kita meringankan sedikit beban yang ada pada saudara – saudara kita dengan klik 👉🏻 https://www.kitabisa.com/zakathafara

Admin Pusat