21 Feb
  • By Admin Pusat
  • Cause in

PASIEN GANGGUAN JIWA MENGAJI? BEGINILAH KESYAHDUANNYA!!!

Dalam sapuan udara segar pagi itu, para pasien Panti Hafara terlihat duduk bersaf-bersaf di Pendopo Punokawan. Mereka bersila menghadap ke utara menikmati siraman rohani yang dipimpin Gus Pur. Para pasien gangguan jiwa itu mengaji dengan khusyuk, khidmat dan seakan penuh kehangatan batin. Hari itu para pasien sedang berpuasa. Namun, di depan saf para pasien gangguan jiwa itu terdapat galon berisi air mineral. Galon itu memang sengaja diletakkan di tengah-tengah pengajian. Bukan untuk menggoda para pasien agar membatalkan puasanya. Namun, galon berisi air itu akan didoakan bersama-sama dengan doa-doa yang baik. Air dalam galon yang telah didoakan itu akan mereka minum pada waktu buka puasa. Di pendopo itu mereka mengasah hati dan pikiran serta dengan bersungguh-sungguh meminta pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tak lama setelah pengajian pagi itu dibuka, shalawat segera terdengar mengalun indah nan merdu. Selepas bershalawat, para manusia-manusia pilihan di pendopo itu mulai menggemakan syahadat dan dzikir secara bersama-sama. Atmosfer pagi terasa sangat religius. Di atas bangunan sederhana itu, damai dan megahnya bangunan rohani sulit untuk tidak dirasakan.

“La ilaha ilallah…. La ilaha ilallah…. La ilaha ilallah Muhammadur Rasulullah…. La ilaha ilallah…. La ilaha ilallah…. La ilaha ilallah Muhammadur Rasulullah….”. “Astaghfirullah hal adzim…. Astaghfirullah hal adzim…. Astaghfirullah hal adzim…….”. “Subhanallah…. Subhanallah…. Subhanallah….. Subhanallah…..”. “Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…”. “Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah…”. Bacaaan-bacaan kalimah langit itu seakan-akan merayap memasuki ruang keheningan jiwa para pasien. Terlihat beberapa pasien menggoyangkan tubuhnya, menikmati kesegaran siraman rohani pada pagi itu.

Setelah gema bacaan dzikir tak terdengar lagi di pendopo itu, Gus Pur segera memimpin doa bersama. Mereka berdoa dengan doa memohon kesembuhan sekaligus kesehatan jiwa dan raga. Mereka berdoa agar dilancarkannya usaha-usaha para donatur. Mereka berdoa dengan nuansa rasa syukur yang meluap-luap. Doa itu diakhiri dengan membaca Al-Fatihah secara bersama-sama. Selepas berdoa bersama, Gus Pur memberikan sedikit kuliah pagi kepada para pasien. Kuliah pagi itu membahas tentang hebatnya fungsi sedekah dan puasa.

”Dulu ada sekelompok orang yang jarang sakit. Setelah dilakukan penelitian, ternyata orang-orang itu rajin melakukan sedekah dan berpuasa. Maka benar jika sedekah itu dapat menyehatkan tubuh dan pikiran. Puasa juga. Berpuasalah kalian maka kalian akan menjadi sehat.” kata Gus Pur pada pagi itu. Dalam pengajian itu Gus Pur juga menekankan bahwa janganlah menunda-nunda perbuatan baik. Banyak orang yang telah meninggal menyesal karena sewaktu hidup tidak banyak melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan sering menunda-nunda perbuatan baik. Waktu memang tiada dapat berulang. Kita harus memanfaatkan waktu ini dengan berlomba-lomba melakukan perbuatan baik supaya tidak menyesal di kemudian hari.

Pengajian pagi yang menyejukkan itu ditutup dengan membaca bacaan hamdalah secara bersama-sama. Para pasien pun satu per satu keluar dari bangunan Pendopo Punokawan. “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”. (DS)

Admin Pusat