03 Jan
  • By Admin Pusat
  • Cause in

Panti Asuhan Undaan Surabaya

Hari masih pagi saat kami sampai di Panti Asuhan Undaan. Panti sekaligus cagar budaya ini berada di Jalan Undaan Kulon No 9-15. Tempatnya yang luas dan asri serta rumah yang kokoh, membuat panti ini terlihat megah. Apalagi menginat bangunan tersebut adalah bangunan bersejarah. Ya, panti ini berdasarkan dokumen Koninklijk Institiit voor Taal, Land-en Volkenkunde (KITLV, dalam Bahasa Indonesia Lembaga Ilmu Bahasa dan Antropologi Kerajaan Belanda), dulu nya merupakan rumah pribadi Henty Johanes Real Polack. Seorang pengusaha perkebunan yang kaya raya pada masanya.

Cikal bakal rumah ini sudah berdiri pada 1885.

Lalu pada tahun 1932 rumah ini dibeli oleh orang tionghoa yang bernama Mayor The Toan Ing bersama Mayor Han Tjion Khing, kemudian mendirikan Panti Asuhan Thay Tong Bon Yan dan digunakan sebagai rumah penampungan bagi anak-anak tidak mampu pada tahun 1919. Dilatarbelakangi sejarah yang dimiliki gedung ini, maka bangunan ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Wali kota Surabaya Nomor 188.45/421/436.1.2/2012

Panti ini menjadi menarik tidak hanya dari bagunannya yang berupa cagar budaya, namun juga dalam pengelolaannya.

Panti yang didiami oleh 28 orang anak-anak ini hampir keseluruhannya merupakan orang Tionghoa yang beragama Kristin/Katolik. Mereka berusia antara 7 – 22 tahun. Mereka disekolahkan dari SD hingga kuliah. Meskipun panti asuhan ini terlihat ekslusif khusus untuk orang tionghoa saja, namun dampingan mereka berasal dari berbagai kota disekitar Surabaya hingga Palu, dan Papua.

Sabtu dan minggu adalah hari yang membahagiakan bagi mereka, karena mendapatkan kunjungan dari sanak saudara.

Pun apabila mendapatkan kunjungan dari tamu, juga membuat mereka bahagia. Saat kami datang, terlihat sorak sorai anak-anak dari dalam gerbang. Saat kami masuk ke kantor, dua anak remaja putri menyambut kami. Ternyata di sini, semua dikelola oleh anak-anak dampingan panti tersebut. Semua mereka kerjakan dengan rapi, sesuai prosedur dan santun. Suatu hal yang jarang kami temukan ditempat lain. Karena panti lain kebanyakan dikelola oleh pengurus panti. O ya, saat kami pulang, kami dibawakan permen dan pena sebagai oleh-oleh. Panti yang menarik bukan.

Admin Pusat