27 Apr
  • By Admin Pusat
  • Cause in

MERAWAT SURGA DALAM HIDUPNYA YANG SUNYI

Orang bilang surga ada di telapak kaki ibu. Sebuah kalimat indah, yang membuat lelaki 41 tahun itu memilih mengisi hari-harinya merawat sang ibunda tercinta. Namanya Sukiyatno, seorang laki-laki penyandang tunarungu dan tunawicara sedari ia lahir. Lahir dalam kondisi ekonomi lemah dan juga keterbatasan yang ia miliki, membuat mas Kiyat sapaan akrabnya tidak pernah merasakan berada di bangku sekolah. Hal itu membuatnya hingga kini masih kesulitan dalam hal baca tulis.

“Dulu pinginnya saya sekolahkan, tapi anaknya nggak mau. Dia bilang uangnya untuk nyekolahin adik saja.” Cerita mbah Suminem, sang ibu kepada kami relawan Hafara yang siang itu berkunjung di rumahnya yang terletak di desa Sidoharjo Tepus Gunung Kidul.

Mas Kiyat adalah sosok yang tak mudah putus asa. Dengan keterbatasan yang ia miliki, ia tak mau berdiam diri. Ia sadar akan bakat yang dimilikinya, yaitu pandai memijat dan memotong rambut. Sejak usia 20 tahun mas Kiyat telah melakoni pekerjaannya sebagai tukang pijat dan potong rambut panggilan.

“Buat makan sehari-hari.” kata lelaki berpenampilan rapi tersebut dengan menggunakan bahasa isyarat.

Meski usianya sudah terbilang sangat matang, namun belum ada niatan bagi lelaki berbadan kurus itu untuk membangun bahtera rumah tangga. Setiap hari yang ia pikirkan adalah kondisi sang ibu yang sedang sakit gastritis atau kondisi ketika lapisan lambung mengalami iritasi, peradangan atau pengikisan. Setiap hari ia rawat ibunya dengan penuh cinta kasih. Tak lupa ia rapikan dan bersihkan rumah agar sang ibu merasa nyaman saat berada di rumah.

Alhamdulillah siang itu kami dipertemukan dengan sosok tangguh nan budiman seperti mas Kiyat. Perangainya yang ramah membuat kami mudah dalam berkomunikasi dengannya. Rumahnya yang ia tata sangat rapi dan bersih, serta gambar-gambar hasil karyanya yang di pasang di dinding kayu rumahnya menjadi suguhan yang sangat istimewa bagi kami. Sambil menunggu perawat Hafara memeriksa kesehatan mbah Suminem, mas Kiyat bercerita bahwa ia pernah mendapatkan bantuan alat bantu dengar. Namun tak lagi ia gunakan, karena dirinya merasa takut dengan suara-suara yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Baginya hidup tanpa adanya suara lebih membuatnya damai dan tidak ada rasa takut. Ia pun telah menemukan bahagia dalam hidupnya yang begitu sunyi.

Admin Pusat