21 Jun
  • By Admin Pusat
  • Cause in

MENDAPAT BEASISWA S2 KARENA SEDEKAH

Disadur dari kisah nyata dengan sedikit perubahan dalam cerita

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu”
Suara yang mengalun dari speaker kabin pesawat Garuda Indonesia ini terdengar merdu bagiku. Dengan diputarnya lagu Katon Bagaskara berarti Bandara Adisucipto sudah dekat. Rindu yang sudah membuncah pada bapak dan ibu akan terbayar lunas sebentar lagi. Sudah dua bulan aku meninggalkan Jogja. Pekerjaanku sebagai peneliti memaksaku harus jauh dari keluarga. Tapi tak apa, ini semua demi cita-cita. Aku harus mengumpulkan uang 20 juta, biar Aku bisa S2. Uang segitu Aku perkirakan akan cukup untuk membiayai dua semester kuliah. Setelah mengambil teori, Aku akan cuti dan bekerja lagi untuk membayar biaya semester berikutnya.

Pukul 20.35 WIB pesawat yang aku naiki sudah landing di Bandara Internasional Adisucipto. Bergegas aku menuju tempat pengambilan bagasi. Dua kardus besar berisi empek-empek dan makanan khas Palembang dengan cekatan aku masukkan trolly. Seusai dicek oleh petugas, segera aku keluar dari ruang bagasi. Diluar, kulihat kakakku sudah menunggu. Aku menghampiri dan memeluknya. Kangen sekali rasanya. Trolly kudorong sejauh 200meter. Kakakku yang lain menunggu di tempat parkir khusus terbatas. Wah, gaya sekali dia, batinku, mengahabiskan uang untuk parkir di area ini. Dibantunya Aku memasukkan koper dan barang-barang ke bagasi. Sepanjang jalan menuju rumah, Aku ceritakan semua yang Aku lalui di Palembang.

Paginya, saat kami menikmati pempek di meja makan, Mama mulai bercerita. “Feb, kamu tahu Tante Ratna, Dia habis ditipu orang. Tante Ratna selain tetangga kita, Dia juga saudara jauh Mama. Sertifikat rumahnya digadaikan orang 20juta. Saat ini rumahnya akan disita bank, karena sudah lama tidak menunggak. Padahal Tante Ratna kan janda, anaknya yang kedua disabilitas. Tidak ada yang membantu dia. Memang sih ada anaknya yang pertama, kerja juga, tapi kan selama ini kerjanya cuma cukup untuk makan mereka sekeluarga. Tante Ratna diberi waktu satu minggu untuk melunasi, bila tidak, rumahnya disita bank.”

Bagai disamber gledek, Aku hanya bisa ternganga. Tanpa memikirkan harus membayar hutang saja kehidupannya sudah memprihatinkan. Anak pertamanya tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada yng membiayai sekolah anaknya. Anak keduanya disabilitas. Sedangkan suaminya sudah hilang entah kemana rimbanya.

Seharian aku pusing memikirkan hal ini. Memang sih, keluarga kami tidak begitu dekat dengan keluarga Tante Ratna karena bukan saudara dekat, tapi kan tetap saja kami tahu cerita ini. Keluarga dekat Tante Ratna juga tidak ada yang dalam ekonomi baik, semua dalam kondisi memprihatinkan. 20 juta, Aku ada sih, tapi untuk bayar SPP yang tinggal menghitung hari. Aku sudah mencoba mendaftar beasiswa untuk kuliah S2 ini, namun tes bahasa inggrisku tidak lolos. Makanya aku harus menyiapkan uang sebanyak ini untuk S2. Aku harus S2 karena ibu tunanganku mengharuskan aku bergelar master dulu sebelum Dia memberikan izin kita untuk menikah. Huft….. Aku mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, seakan menikmati setiap hembusannya.

Kudekati Mama, Aku bilang, apabila aku tidak jadi kuliah semester ini bagaimana? Aku masih muda, tahun depan aku bisa tes lagi. Toh kuliah S2 bisa kapan saja, tapi kalau rumah Tante Ratna yang akan disita, tinggal menunggu hari. Setelahnya, Dia akan tinggal dimana? Belum salah seorang anaknya yang disabilitas. Masak iya, kita tega membiarkan mereka tinggal di jalan. Mata Mama berkaca-kaca. Mama membenarkan tindakanku, jika memang Aku ikhlas.

Malamnya, diam-diam aku ke rumah Tante Ratna. Aku serahkan segepok uang 20juta itu. Ia langsung menangis sesenggukan sambil memelukku. Beribu ucapan terimakasih dan doa Ia panjatkan untuk kesuksesanku. Aku mengamini setiap yang Ia ucapkan. Tapi Tante Ratna tidak mau menerima uangku. Ia memintaku menemaninya ke bank esok hari. Ia takut uang itu hilang sebelum ke bank. Karenanya keesokan harinya aku mengantarkannya ke bank dan menyelesaikan segala urusan administrasi.

Seminggu sudah Aku di Jogja. Merasa cukup bertemu dan berkumpul dengan keluarga, Aku kembali mencari info lowongan pekerjaan. Tentu Aku harus bekerja setelah memutuskan tidak jadi melanjutkan S2 semester ini. Aku list beberapa pekerjaan di luar Pulau Jawa. Ya, Aku memang suka bekerja di luar Pulau Jawa karena gajinya berkali-kali lipat lebih tinggi daripada di Pulau Jawa. Baru saja aku menlist daftar NGO yang sedang membutuhkan peneliti, datanglah WA dari Mar’a, seorang kawan waktu les bahasa inggris di Pare, Kediri tahun lalu.:

“Mba, udah cek belum, kita ketrima beasiswa unggulan calon dosen DIKTI. Selamat ya mba, tapi sayang ya, kita pisah, mba di Jogja, aku di Bogor.”

Alhamdulillah ucapku dalam hati. Tak terasa air mataku menetes dipipi. Aku sama sekali tak menyangka mendapatkan beasiswa prestisius tersebut karena nilai bahasa inggrisku kurang. Mungkin ini pertolongan dari Alloh karena aku membantu tante Ratna. Uang 20 jutaku langsung diganti dengan beasiswa senilai 200juta oleh Alloh, tanpa aku perlu menunggu lama. Awalnya aku hanya menyiapkan uang untuk membayar SPP saja, namun Alloh langsung memberikan uang SPP, uang buku, uang makan dan uang transportasi sekaligus untuk 2 tahun, bukan hanya 2 semester. Rizqi memang tidak kemana ketika Alloh sudah mentakdirkan untuk kita. Cuma, bagaimana cara kita menjemputnya. Aku menjemput rejekiku dengan cara bersedekah, dan inilah cara terbaik menjemput rejeki yang Aku yakini.

Sahabat, memberi itu bukan mengurangi rizki, tapi melipatkangandakan rizki kita. Berdasarkan QS Al Baqoroh ayat 261 : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Karena itu, saat saya memberi 20juta, Alloh melipatgandakan hingga 200juta. Sedekah selain dapat melipatgandakan rizqi kita, juga sebagai penolong bagi kita.

Sahabat, cerita tadi adalah kisahku, tidakkah sahabat juga inggin mencoba keajaibanNya. Merasakan nikmat dari Alloh, saat kita berada di titik nadir, saat kita sudah tidak berharap apa-apa, tiba-tiba Alloh memberi rizqi kepada kita dari jalan yang tidak kita duga. Sahabat dapat mencobanya melalui https://kitabisa.com/zakathafara. Dan kita nantikan cerita dari sahabat semua, keajaiban apa yang kalian peroleh setelah mensedekahkan harta di jalan Alloh

Admin Pusat