26 Nov
  • By Admin Pusat
  • Cause in

LARI DARI BULLYING, PEMUDA INI TERDAMPAR DI RUMAH SAKIT JIWA

Hidup sendiri di perantauan memang tak mudah, apalagi dengan segala keterbatasan diri. Tito, begitu ia biasa disapa. Ia bekerja sebagai buruh di ibukota. Sepulang kerja, ia seringkali dihadang beberapa orang untuk dimintai uang. Apalagi setiap habis gajian, Titok akan sampai rumah kontrakan dengan tubuh lebam dan kehilangan semua uangnya.

Setiap habis gajian, Tito kebingungan harus pulang lewat mana untuk menghindari preman yang memalaknya. Ketakutan itu terus menumpuk, hingga ia merasa cemas dan khawatir setiap saat.

Hal itu yang membuatnya bertekad pulang kampung meski dengan tangan hampa. Namun, pulang kampung justru memperparah kehidupannya. Ia merasa seperti dikejar kejar orang, bahkan ia mengamuk sebagai pembelaan diri merasa disakiti orang.

Tim evakuasi Hafara pun meluncur membawa Tito ke RSJ Ghrasia untuk mendapat pelayanan kesehatan baik fisik maupun jiwa. Tito yang tinggal sendirian di gubuknya yang reot tak mampu melawan, saat harus masuk ke mobil patah hati Hafara.

Hidup sebatangkara sebagai yatim piatu, Tito hanya bisa bergantung dengan belas kasihan tetangga. Saudara kandungnya pun tak dapat berbuat banyak karena keadaan ekonomi yang juga memprihatinkan.

Saat ini, Tito harus tinggal sementara di RSJ Ghrasia, sepulangnya dari sana entah ia akan pulang ke mana. Ia butuh pengawasan minum obat dan kesibukan agar semua bisikan – bisikan yang menguasai nya hilang. Namun, ia tak mungkin tinggal sendiri di gubuknya yang sudah rapuh dan reot.
Kakaknya Tito berharap, Tito bisa mendapatkan yang terbaik.

“Seandainya Tito bisa sembuh…” Tampak Kepediahan Melingkar di wajah lelaki setengah baya itu.

Ia pasrah dengan semua keadaan Tito, dan berharap Tuhan mengasihi Tito dengan lingkaran cinta.

Banyak cerita perjalanan para relawan Hafara. Semangat, rintangan, resiko, semua berpadu menjadi bentuk rasa syukur yang selalu berhasil memberikan kebahagiaan dan rasa damai di hati para relawan

 

Admin Pusat