11 Sep
  • By Admin Pusat
  • Cause in

Ibu Akan Selalu Berusaha Tegar Didepan Kalian Sayang

Keluarga berencana (KB) adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Itu bermakna adalah perencanaan jumlah keluarga dengan pembatasan yang bisa dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran seperti Kondom, Spiral, IUD dan sebagainya.

Mungkin kalian familiar dengan istilah dua anak lebih baik.

Namun, semua hal hasil buatan dan rancangan manusia pasti selalu ada celah ketidaksempurnaannya. Karena seperti yang kita tahu kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Seperti perihal ini, mereka mengadakan progam seperti itu tidak semua bisa terealisasikan di masyarakat sesuai dengan harapan karena beberapa penyebab. Masih ada yang tidak mau ber-KB, belum meratanya pendidikan tentang KB dan bahkan yang sudah ber-KB pun ada kemungkinan gagal.

Yaa itu, Wallahu a’lam. Semua kembali ke kehendakNya. Dan kita sebagai manusia tidak bisa menghindari itu. Sama seperti Ibu Wijiyati. Ibu dengan lima orang anak ini hanya menerima dengan ikhlas hati semua takdir yang sudah digariskan yang Maha Esa. Beliau tidak menyesali anugrah terindah yang telah dititipkan untuknya. Walaupun harus berjuang sekuat tenaga bagaimana caranya agar hidup kelima anaknya terjamin.

Memang anaknya yang pertama sudah dipinang orang dan saat ini tinggal bersama suaminya. Paling enggak beban ibu Wijiyati sudah agak berkurang. Namun, masih ada keempat anaknya yang sekarang masih menjadi tanggung jawab besar di tangan dan pundaknya. Dina namanya. Anak kedua ibu Wijiyati yang sekarang berusia 14 tahun. Dina terpaksa harus rela tidak mencicipi bangku sekolah karena keadaan ekonomi ibunya tidak memungkinkan untuk biaya sekolahnya.

Dimana adiknya yang bernama Candra juga harus bernasib sama sepertinya.

Karena kendala biaya, lagi lagi harus membuat anaknya tidak bisa belajar layaknya anak-anak yang lain. Selanjutnya, Dewa anak ketiga Ibu Wijiyati yang saat ini usianya masih 7 tahun. Dan terakhir anak bungsunya adek Tata Yudistira, sibungsu berusia 9 bulan yang sekarang sedang menjalani ujian sakitnya. Kamis, 5 September 2019. Alhamdulilah, kami keluarga Hafara diberi kesempatan untuk menjenguk adek Tata Yudistira, yang saat ini dirawat di Rumah Sakit Harjolukito.

Berawal dari gejala batuk. Iya si bungsu awalnya hanya sakit batuk biasa. Tapi rupanya sakit batuk ini tidak bisa dianggap enteng. Mungkin karena keadaan ekonomilah lagi lagi yang menjadi penyebab Ibu Wijiyati tidak langsung membawa sibungsu berobat untuk memeriksakan sakit batuknya. Batuknya semakin hari semakin parah dan membuat dahaknya masuk ke dalam paru-parunya. Endapan dahak diparu-parunya membuat sistem pernafasannya tidak bisa berfungsi dengan maksimal dan harus membuatnya dirawat di rumah sakit.

Pasti dalam hati kecil Ibu Wijiyati juga tidak menginkan hal ini terjadi ke anak-anaknya. Mereka yang rela tidak bisa menikmati indahnya masa-masa sekolah bahkan sibungsu yang saat ini harus menjalani pengobatan karena sakit yang dideritanya. Seorang ibu mana yang tega melihat anak-anaknya hidup menderita. Tapi, apa daya. Ibu Wijiyati tidak bisa berbuat apa-apa.

Berusaha ?

Sudah, Beliau sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari nafkah tapi mungkin karena keterbatasan potensi didalam diri membuatnya tidak bisa mendapat pekerjaan dengan gaji yang lumayan besar. Keliling mengambil barang bekaslah yang setiap hari beliau lakukan. Iya.. menjadi seorang pemulung yang sangat dianggap negatif di lingkungan masyarakat. Pekerjaan itulah satu-satunya sumber ekonomi yang bisa beliau andalkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari anaknya.

Tidak jarang kami lihat dibeberapa tempat ada peringatan seperti ini. Pemulung dilarang masuk ! Apa yang kalian fikirkan ? Kebayang nggak Teman, bagaimana posisi Ibu Wijiyati menghadapi situasi seperti itu ? Sangat menyakitkan dihati bukan ? Tapi Beliau tetap kuat. berjuang mati-matian sendiri. Sementara sang suami yang bisa beliau jadikan sandaran dan tempat bertukar pikiran malah pergi meninggalkannya dan keempat anaknya. Entah apa yang terjadi.

Awalnya sang suami pamit bekerja di kota Pekalongan sekitar 9 bulan yang lalu, namun sejak 1 bulan terakhir ini sang suami hilang kontak dan tak pernah ada kabar datang sekedar menyapa dan menanyakan kabar istri dan anak-anaknya. Ibu Wijiyati hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan hidup yang seperti ini. Beliau tetap berusaha tegar dan mempertahankan senyum bahagia itu didepan buah hatinya. Walaupun sebenernya, beliau juga harus menahan sakit.

Penyakit Liver yang membuat organ hatinya tidak bisa berfungsi maksimal, yang sebenernya ini juga akan mempengaruhi kekuatan tubuhnya untuk melakukan banyak aktivitas di kehidupan sehari-harinya.“Untuk biaya makan saja saya harus mulung mbak, apalagi untuk biaya berobat saya tidak punya”. Ungkap Ibu Wijiyati di hadapan kami saat itu. Keadaan ekonomi Teman.

Mungkin inilah yang disebut Negara Indonesia keadaan ekonominya sudah berada dilampu merah. Masih banyak sekali masyarakat yang berada di ekonomi menengah kebawah bahkan sampai di ekonomi yang sangat memprihatinkan. Ekonomi yang buruk itulah yang menjadi penyebab masih banyak anak usia dini yang jauh dari lingkungan pendidikan dan masih tinggi tingkat kematian karena tidak adanya biaya berobat ketika sakit menyerang.

Sama persis dengan yang terjadi di kehidupan Ibu Wijiyati dengan keempat anaknya ini. Tapi hebatnya beliau apa Teman ? Beliau berusaha tetap selalu tersenyum bahagia didepan anak-anaknya. Beliau tidak ingin anak-anaknya melihat sakit yang dirasakan dibalik itu semua. Beliau selalu menguatkan anak-anaknya agar selalu sabar menerima semua cobaan ini dan mengajarkan mereka untuk selalu bersyukur apapun keadaannya.

Dan saat ini hanya tangan-tangan dari #orangbaik lah yang Ibu Wijiyati harapkan, untuk sedikit mengurangi beban yang dipikulnya. Selain itu beliau percaya sepenuhnya dengan istilah ’Banyak anak Banyak rezeki’. Ibu Wijiyati yakin Allah telah menyelipkan rezeki dimasing-masing kehidupan anaknya. Hanya saja saat ini Beliau sedang diuji sampai sejauh mana tingkat ketabahan dan kesabarannya.

Dan alhamdulilah berkat petunjukNya.

Kami dipertemukan dengan Ibu Wijiyati, walaupun uluran tangan kami tidak seberapa setidaknya itu bisa membantu ekonomi beliau dan terkhusus menemani adek Tata Yudistira berjuang sembuh dari penyakitnya. Kalian kapan Teman ?

Detik ini, hari ini, minggu ini, bulan ini ataukah tahun ini ? Kapanpun itu tancapkan niat baik dihati dulu. Bahwa sebagian harta yang kita punya ada hak-hak mereka, saudara kita yang menanti uluran tangan kita. Segerakan niat baikmu, karena pasti Allah akan memudahkan itu. Bersama-sama gerakkan hati kita melalui https://kitabisa.com/zakathafara. Untuk membantu perjuangan hidup Ibu Wijiyati dan anak-anaknya.

Admin Pusat