28 Sep
  • By Admin Pusat
  • Cause in

Hilangnya Tulang Punggung Keluarga

Apa sih arti tulang punggung keluarga menurut kalian dan seberapa penting posisi itu disebuah keluarga ? Pasti memegang peran yang sangat dominan kan pastinya. Dimana sebuah keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

Tentu dalam sebuah perkumpulan itu ada satu orang yang menjadi tulang punggung keluarga untuk dijadikan tumpuan dan sandaran dalam segala hal terutama perihal kebutuhan sehari-hari.

Peran itu biasanya jatuh kepada seorang Ayah. Lantas apa yang akan terjadi dan bagaimana kelangsungan hidup sebuah keluarga jika tulang punggung itu tak lagi ada dan sudah tidak bisa produktif lagi menjalankan perannya ? Tidakkah terlihat rumit segalanya ? Hal serupa yang dialami keluarga kecil ini. Sebuah keluarga yang tinggal di Dusun Tangkisan III RT.078/ RW.023 Hargomulyo Kokap Kulonprogo yang juga menjadi salah satu yang masuk didaftar dampingan luar Hafara. Keluarga itu terdiri dari seorang bapak, seorang ibu dan dua anaknya.

Dikepala keluarga i oleh bapak Jumari sebagai seorang suami sekaligus seorang bapak untuk anak-anaknya. Bapak Jumari inilah yang dahulu menjadi tulang punggung untuk keluarganya. Namun tragedi kecelakaan itu membuat beliau harus rela berhenti dari peran utamanya itu. Iya sekitar 3 tahunan yang lalu beliau terjatuh dari sebuah pohon disaat sedang mencari kayu bakar sebagai salah satu kebutuhan juga. Kejadian itu membuat beliau tidak mampu menahan sakit di kedua kakinya.

 

Setelah diketahui para warga akhirnya beliau langsung dibawa ke pelayanan kesehatan terdekat.

Setelah menjalani beberapa rentetan pemeriksaan ternyata kaki beliau mengalami patah tulang akibat hantaman keras saat terjatuh dari pohon itu. Tak hanya itu, dokter juga mengatakan kalau kaki kiri beliau sudah mengalami pengeroposan disela-sela tulangnya. Dokter juga menuturkan ada sebagian tulangnya yang geser dan keluar. Sontak setelah mendengar semua yang diberitahukan oleh dokter terkait kondisinya, beliau langsung kaget dan muncul rasa tidak menyangka.

Kegiatan mencari kayu bakar yang biasanya juga sering beliau lakukan sehari-hari menjadi perantara cobaan yang mengakibatkan efek yang sangat fatal untuk dirinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Beliau bisa apa jika semua itu sudah terjadi dan tak mungkin waktu bisa beliau putar kembali. Kalaupun boleh meminta, beliau tidak mau mengalami kecelakaan ini. Sejak saat itulah peran tulang punggung itu beralih sepenuhnya ke istrinya.

Sampai sekarang semua kebutuhan keluarga ditanggung sang istri termasuk kebutuhan untuk anak-anaknya sekaligus tabungan untuk kebutuhan biaya sekolah sibuah hati kelak. Sang istri bekerja sebagai pembuat kerajinan tangan diarea Wonosari, Gunungkidul. Pekerjaan itulah yang menjadi sumber rezeki dikeluarga kecilnya. Pekerjaan deres kelapa untuk dibuat gula jawa yang dulu juga ditekuni bapak Jumari sekarang diambil alih oleh salah satu tetangganya.

Jadi dari hasil pembuatan gula jawa yang sekarang dikerjakan tetangganya itu keuntungannya dibagi. Jadi sekarang semua hasil tidak sepenuhnya bisa beliau dapatkan. Disamping kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi. Ada kebutuhan lain yaitu terkait pemantauan kondisi kesehatan beliau. Patah tulang dan pengeroposan yang terjadi disalah satu kakinya mengharuskan beliau harus rutin kontrol paling nggak sebulan sekali.

Untuk memastikan kondisi kakinya tidak semakin parah, beliau mengontrolkan kakinya ke RS Sardjito Yogyakarta. Beberapa obat pun masih harus beliau konsumsi setiap hari sampai saat ini sebagai upaya penyembuhan. Kamis, 26 September 2019 kemarin kami datang berkunjung dan bersilaturahmi ke rumah singgah beliau. Salah satu informasi yang juga kami dapatkan yaitu terkait transportasi yang beliau gunakan ketika tiba jatah kontrol dan diantar tetangga menggunakan sepeda motor lah yang menjadi penolong beliau ketika hendak pergi periksa.

Begitulah kehidupan dari bapak Jumari beserta keluarga kecilnya.

Ditengah-tengah cobaan yang sejak 3 tahun yang lalu sampai saat ini menimpa beliau, hanya ikhlas dan sabar lah yang singgah dihati beliau dalam menyikapi semuanya. Rasa syukur itu masih tetap ada, setiap nikmat rezeki yang diberi Sang Maha Pencipta selalu beliau terima sebagai sebuah anugrah untuk keluarga kecilnya meskipun peran tulang punggung keluarga itu sudah tak mampu lagi beliau emban sepenuhnya.

Beribu syukur memang sudah sepantasnya hinggap dihati kita semua Kawan. Nikmat apa lagi yang kita dustakan jika ternyata diluar sana masih ada banyak orang bahkan keluarga yang mengalami nasib yang tidak semujur kita. Bapak Jumari salah satunya. Beliau harus rela terlepas dari peran pentingnya melalui kecelakaan yang tidak pernah beliau sangka sebelumnya. Namun beliau tetap percaya bahwa cobaan itu pun sudah Allah atur sedemikian rupa untuk menguji sampai batas mana tingkat syukurnya.

Kawan, mari gerakkan hati kita semua untuk bersama-sama membantu meringankan beban beliau atas cobaan yang menerpanya. Bersatu disini 👉https://kitabisa.com/campaign/zakathafara belajar memanusiakan manusia

Admin Pusat