30 Apr
  • By Admin Pusat
  • Cause in

HAMPARAN CINTA UNTUK ALIFA, BALITA PENYANDANG TUNA MAJEMUK

Tangan kiri anak itu meliuk-liuk di depan wajahnya. Sedangkan, telunjuk tangan sebelah kanan menekan-nekan ujung mata kanannya. Kedua matanya sering terlihat melotot. Tak ada yang tahu jelas apa yang dipelototinya. Tak ada yang mengajari anak itu untuk melakukan gerakan-gerakan tangan tersebut.

“Dia nggak bisa melihat, Mbak.” kata Bu Ela menjelaskan kondisi anaknya kepada Tim Relawan Hafara.

Anak itu bernama Alifa Rahayu. Ia lahir pada 15 Agustus 2013 di Gunungkidul. Saat ia lahir ibunya masih berusia 19 tahun. Sehari-hari ia diasuh ibu, nenek dan kakeknya di Tepus Gunungkidul. Menurut pengakuan sang kakek, bapak anak ini jarang menjenguk Alifa.

Dapur rumah yang ditinggali Alifa mengepul dari aktivitas pertanian. Kakek dan neneknya bekerja sebagai petani kecil. Sedangkan, Bu Ela, ibu anak ini mengaku hanya mampu bekerja menjadi buruh lepas harian. Namun, pekerjaan itu tidak dilakoninya setiap hari. Sehari-hari, selepas anaknya lahir, ia lebih sering terlihat mengasuh Alifa.

“Ibunya saat ini nggak kerja, Mbak. Ia mengurusi Alifa. Kalau dia kerja nanti Alifa nggak ada yang ngurusi.” kata nenek Alifa sembari menatap cucu yang disayanginya itu.

Tubuh balita itu terlihat gendut. Namun, lingkar pergelangan kaki anak itu terlihat sangat kecil. sampai seusia ini ia belum bisa berjalan. Selain belum bisa berjalan, Alifa juga belum bisa melihat dan belum bisa mendengar. Kedua indera di tubuhnya tak dapat digunakan dengan baik. Anak dengan kondisi ini sering disebut dengan multiple disabilities and visual impairment (MDVI) atau anak tuna majemuk.

Tinggal di pegunungan ditambah dengan kondisi keuangan yang sangat terbatas, keluarga Alifa lebih akrab mengunjungi paranormal daripada dokter. Para orang pintar di sekitar tempat tinggalnya telah disambangi. Namun, tak ada paranormal yang berhasil menyembuhkan Alifa. Hingga kini kondisi Alifa tak banyak berubah.

“Dulu pernah dibawa ke orang pinter. Tapi nggak ada yang bisa menyembuhkan Alifa.” kata kakek Alifa menjelaskan laku pengobatan yang telah ditempuh untuk cucunya.

“Meski seperti itu, kami rawat dia semaksimal mungkin, Mbak.” kata kakek Alifa siang itu kepada Tim Relawan Hafara.

Selepas bertemu dengan keluarga luar biasa ini, kami menjadi paham bahwa merawat titipan Tuhan memang tak mudah. Perlu kerja keras, pengorbanan, keikhlasan dan rasa tanggung jawab agar dapat menghamparkan cinta untuk si kecil Alifa. Kami berterima kasih kepada Tuhan karena telah memberi kesempatan untuk bertemu dengan keluarga luar biasa ini. Semoga manusia-manusia seperti ini tidak berjuang sendirian, baik kini maupun nanti.

Admin Pusat