08 Apr
  • By Admin Pusat
  • Cause in

DI SISA UMURKU YANG RENTA

Kembali lagi “Tim Kurir Panti Hafara” mengunjungi salah satu lansia yang berada di Bantul. Meskipun cuaca sudah mendung gelap, tak menggoyahkan kami untuk bergerak menebarkan benih-benih kebaikan. Menempuh jarak yang lumayan jauh untuk menuju di kediaman Lansia stu ini. Medan jalan yang sangat tak bersahabat tetap di lewati untuk membantu Simbah yang sedang sakit tua.

Ya.. ialah Mbah Pasem, umur 83 tahun, yang beralamat di Ngajaran, Sidomulyo, Bambanglipuro. Tepatnya pada 6 bulan yang lalu, Mbah Pasem sudah tak berdaya untuk duduk apalagi berjalan, sisa umurnya hanya di habiskan di ranjang kayu ini.  Astagfirullah, sangatlah terkeruk hati ini melihat simbah yang sudah tua renta tak bisa berbuat apa-apa, makan pun seadanya, tidur hanya beralas sehelai kain saja.

 

Simbah tinggal berdua di rumah sederhananya dengan suami tercinta. Tapi sayang, suami mbah pasem yang bernama Harjo Wasito tak bisa bergerak dengan leluasa karena 1 tahun yang lalu suami mbah pasem menjalani operasi prostat. “Simbah bakale nganjani Mbah Pasem tekan malaikat rakib nekani” ujar mbah Harjo Wasito suami Mbah Pasem dengan kata yang sangat lirih dan perasaan mendalam, “Simbah akan menemani Mbah Pasem sampai malaikat rakib menjabut nyawanya”. Begitu tulusnya cinta mbah.. ke Mbah Pasem

Mbah Pasem sakit tak berdaya sejak 6 bulan yang lalu, awalnya tak sakit apapun, maupun jatuh. Sebelumnya mereka berdua saling mengkasihi, dan menyanyangi, timbal balik saling membantu dan melengkapi untuk menghiasi suasana istana sederhananya tersebut. Karena sebelum Mbah Pasem sakit, Beliau selalu jualan makanan khas seperti gatot, tiwul, dan tempe benguk. Memikul kranjang setiap harinya menyusuri jalanan dengan langkah kakinya. Panas mau pun hujan tak menggoyahkan semangatnya untuk mencari nafkah. Adzan subuh peringatnya untuk memulai memamasak dagangannya, dan selalu di bantu oleh suaminya.

Sekarang, hanyalah bisa tertidur, memandang geraknya daunan melalui cendela kecil. Alhamdulillah, masih ada seorang anaknya yang selalu merawat dengan penuh kasih sayang, menyuapinya setiap pagi dengan bubur yang sangat sederhana tanpa ada campuran sayur maupun lauk sedikitpun. Inilah hidup harus diajalani apa adanya, tanpa sedikitpun mbah Pasem tidak mengeluh dengan keadaannya, menerima dengan ihklas itulah yang dilakukan mbah Pasem dan teman hidupnya.

Masa itu akhirnya datang, ditemani anak dan keluarganya mbah Pasem menghembuskan nafas terakhir tepat di umur 80 tahun pada tanggal 5 April 2019 . Inilah hidup jika Allah sudah Kun Fa Yakun, kita mau apalagi. “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya”. (QS Ali Imron : 145 ). Jadi kita sebagai manusia yang seperti butiran debu, sebaiknya gunakan waktu yang singkat ini dengan berfastabiqul Khairot berlomba – lomba mencari kebaikan. Lihat sesama yang membutuhkan, mari kita doakan mbah Pasem agar almarhumah tenang dan diampuni segala dosanya.

Saya peduli dengan mereka, bagaimana dengan kalian ?

Masihkah kita medepankan ego kita atau sedikit melihat orang – orang disekitar kita yang membutuhkan. Tentukan pilihan kalian, pilih baik atau buruk. Pilih maju atau mundur. Bersama kami mari gunakan waktu yang singkat ini untuk mendampingi simbah – simbah lansia lainnya yang membutuhkan uluran tangan kita, bergandeng tangan kita saling  memburu kebaikan untuk sesama, bersama kami klik https://kitabisa.com/zakathafara untuk mereka agar bisa tersenyum.

Admin Pusat