02 Nov
  • By Admin Pusat
  • Cause in

Buta Mata dan Cacat Fisik tapi Berbakat Main Musik

Keterbatasan fisik atau sering pakar menyebutnya dengan Disabilitas, memang selalu menarik perhatian setiap orang yang melihatnya.

Keadaan tubuh yang relatif tidak sempurna itu menjadi pemicu orang-orang untuk menilainya sesuai kadar citra masing-masing. Ada yang merasa kasihan, tidak tega, simpati, dan bahkan ada juga yang menjadikannya sebagai bahan ejekan. Namun, lagi lagi kita dibuat tercengang oleh aksi para penyandang cacat yang memperlihatkan berbagai keahlian dibalik kekurangan mereka.

Sudah banyak yang menunjukkan dihadapan kita semua bahwa mereka mampu melakukan hal diluar batas. Orang yang tidak mempunyai tangan dan kaki bisa berenang dengan lincahnya, orang tuna rungu bisa bernyanyi merdu, bahkan orang tunanetra sekalipun bisa memainkan berbagai macam alat musik dan masih banyak yang lainnya. Semua terbukti nyata didepan mata kita termasuk salah satu dampingan luar Hafara yang kami kunjungi kemarin.

Seorang bapak paruh baya membuat wajah kami semua kagum dengan keahlian memainkan alat musik yang beliau sering menyebutnya ’Titi’.

Sebuah gamelan jawa yang bentuk dan cara memainkannya hampir mirip dengan saron dan barung. Beliau bapak Wagiran namanya. Seorang bapak yang terlahir dengan keadaan cacat fisik ditubuhnya. Kaki dan tangannya mengecil dan tidak bisa tumbuh sesuai usia perkembangannya. Keadaan inilah yang membuat beliau tidak bisa merasakan nikmatnya berdiri, berjalan maupun berlari. Kedua tangannya juga tidak bisa berfungsi secara maksimal.

Selain cacat di kedua tangan dan kakinya, beliau juga tidak bisa melihat segala sesuatu yang terjadi disekitarnya. Ketidakmampuan melihat di kedua matanya membuat beliau hanya bisa memandang kegelapan di setiap hari-harinya. Bapak berusia 45 tahun ini dirawat penuh oleh kakak kandungnya yang bernama pak Muji. Tinggal di salah satu rumah yang berada di Dusun Banyuurip RT.003, Caturharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Pak Wagiran ini terlahir dengan empat bersaudara, beliau merupakan anak terakhir dari bapak ibunya.

Kakaknya itulah yang setiap hari membantu memenuhi kebutuhan beliau.

Baik kebutuhan sandang, pangan maupun papan. Berdasarkan informasi dari kakaknya, dulu beliau sempat di periksakan ke rumah sakit untuk memastikannya keadaan yang terjadi di dirinya. Namun, dokter mengatakan bahwa cacat yang terjadi kemungkinan besar tidak dapat disembuhkan. Sejak saat itulah pak Muji memutuskan untuk merawat sendiri adiknya itu dirumah dengan segala kemampuan dan kesabaran yang dimilikinya.

Tidak banyak aktivitas yang bisa pak Wagiran lakukan selain rebahan dan duduk di atas dipannya. Keterbatasan fisik yang dialaminya juga membuat beliau memutus keinginannya untuk menjalin bahtera rumah tangga. Beliau memang cacat dalam hal fisik namun tidak pada mentalnya. Beliau menunjukkan kemampuannya memainkan gamelan itu di hadapan kami semua.

Padahal kalau di logika, mana mungkin bisa lakukan itu sementara beliau tidak bisa melihat. Kebiasaan ini muncul ketika beliau sering mendengarkan radio yang akrab dengan acara wayang ataupun seni tradisional lainnya. Beliau menunjukkan ke kita semua bahwa keterbatasan fisik seseorang tidak akan menjadi penghalang kemampuan berkaryanya. Semua kembali ke mental dan kegigihan hati kita.

Bahkan banyak dari kita yang lebih mengabaikan kemampuan diri untuk melanyahkan bakat yang dimiliki. Namun, tidak untuk pak Wagiran, melalui kemampuannya memainkan musik gamelan itu beliau menunjukkan bahwa Allah selalu selipkan kelebihan dibalik kekurangan seseorang. Melalui cara itulah beliau meningkatkan rasa syukur di hatinya atas nikmat yang sudah Allah berikan.

Lalu, apa kabar dengan hati kita semua ? Apa kabar dengan besar syukur kita ? Apa dibalik kelengkapan fisik dan kelimpahan nikmat di hidup kita masih belum cukup melatih hati dan fikiran untuk membuat rasa syukur itu tetap ada setiap harinya ? Mari belajar tegar dan syukur yang jembar dari seorang pak Wagiran. Merapatlah ke kami https://kitabisa.com/campaign/zakathafara untuk bersama-sama belajar bersyukur dan ulurkan tangan kita untuk kehidupan pak Wagiran.

Admin Pusat