13 Sep
  • By Admin Pusat
  • Cause in

Bukan Harta Teman Sejati Masa Tua, Tapi Cinta

Sudah kita ketahui secara gamblang bahwa sebagai manusia kita pasti akan melewati alur kehidupan masing-masing. Mulai dari alam kandungan, bayi, anak-anak, dewasa, pralansia, lansia, sampai kembali ke alam kematian. Keadaan fisik dan psikologis kita pun semakin lama akan semakin berubah setiap waktunya. Sistem imunitas (kekebalan tubuh) yang mulai menurun, fisik yang mulai berubah, sampai fungsi kerja otak yang mulai melemah seiring dengan bertambahnya usia.

Di usia yang sudah memasuki masa tua atau dikenal dengan Menopause dalam istilah medis, tentu akan banyak perubahan yang terjadi. Kebanyakan orang tua sifatnya akan kembali kekanak-kanakan, hal itu disebabkan karena proses penerimaan terhadap dirinya. Harus kita sadari bahwa perubahan-perubahan itulah yang akan menguji kesabaran kita sebagai seorang anak yang berkewajiban untuk bertukar posisi merawat mereka. Setelah jasa apa yang sudah mereka berikan terhadap kita sejak kita kecil.

Seperti simbah yang beralamat di Dusun Depok Rt.03, Gilangharjo, Pandak, Bantul. Dimana keadaan fisik simbah ini sudah tidak sekuat masa muda dulu karena faktor usia yang sudah tua.

Beliau simbah Karto Utomo namanya. Tinggal di rumah yang sangat sederhana jauh dari kata megah didalamnya. Tampak dari dipan bambu, pintu bambu dan lantai tanah yang kami lihat ketika bersilaturahmi kesana. Di usia rentanya, beliau tinggal bersama anak laki-laki dan menantunya. Kepada merekalah beliau bersandar diri dan meminta bantuan untuk mencukupi segala kebutuhannya. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari sekeluarga. Anak beliau berusaha sekuat tenaga untuk mencari rezeki. Begitupun dengan anak menantunya yang sampai saat ini masih menekuni kemampuannya membuat emping dan kemudian dijual dengan harga perkilonya tiga puluh ribu rupiah.

Apapun pekerjaannya yang penting halal. Prinsip itulah yang selalu anak-anak beliau pegang. Dengan begitu kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi terutama dalam hal kebutuhan makan. Mereka sabar dan tetap sadar akan tanggungjawab sebagai seorang anak ke orang tuanya. Tetap akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk ibunya dan akan tetap setia berada disamping ibunya apapun keadaannya.

Simbah yang usianya sudah masuk 90 tahun itu sudah tidak bisa beraktivitas apa-apa. Kulitnya sudah mengeriput diwajah tangan dan kakinya, giginya sudah mulai hilang satu persatu, dan bahkan untuk berdiri pun beliau sudah tidak bisa melakukannya seorang diri. Anak-anaknya lah yang selalu membantunya setiap hari.

Meskipun begitu. Beliau tetap banyak rasa syukur.

Diusia yang setua itu masih ada anak-anaknya yang setia menemaninya. Sabar dan telaten merawatnya dan mencukupi kebutuhannya. Rumah sederhana, pakaian sederhana, makanan apa adanya. Itu semua tidak akan mengurangi besar syukur beliau ke Maha Pemberi Hidup. Karena bukan hal itulah penimbul bahagia dihati beliau. Tapi, kasih sayang yang tulus dari anak-anaknya yang menumbuhkan rasa bahagia. Hal yang beliau butuhkan di masa tuanya bukan lagi harta melimpah melainkan rasa cinta. Cinta dari anak-anaknya dan cinta dari orang-orang disekitarnya.

Beliaupun bisa merasakan cinta tulus itu dari kami setiap kali datang menjenguk dan bersilaturahmi kesana. Beliau tetap tersenyum bahagia dibalik keriput wajahnya. Orang baik dimanapun kalian berada dan sedang dalam keadaan apa perekonomian kalian semua diluar sana. Jangan lupa untuk selalu mempunyai rasa peduli terhadap saudara kita. Berbagi tidak akan mengurangi rezeki kita, tetapi justru menjadi awal pembuka pintu rezeki kita yang lain. Terus berkelana dan belajar memuliakan hidup saudara kita bergerak bersama https://kitabisa.com/zakathafara.

Ditunggu cinta tulusnya dari orangbaik oleh Simbah Karto Utomo. Sebagai penambah semangat sekaligus penopang hidup beliau menjalani usia senjanya. Panjang umur dan sehat selalu geh Mbah. Salam keluarga Hafara

Admin Pusat