06 Dec
  • By Admin Pusat
  • Cause in

Berteman Tetesan Embun Kami Kembali Rangkul Mbah Rembun

Mata ini terbangun sembari merasakan ada panggilan dari hati yang teramat dalam. Sejuk dan dinginnya udara pagi tetap memberikan efek positif bagi setiap diri. Ayam berkokok dengan penuh semangat mengiringi langkah kaki ini. Sang fajar yang masih kelihatan malu-malu dari ufuk timur sana dan tetesan embun kali ini yang menemani kami untuk kembali hampiri mbah Rembun.

Sahabat, diri ini bingung bagaimana mengungkapkan semua perasaan yang ada di hati.

Senang, sedih, bergetar, terharu campur aduk menjadi satu. Rasa itu sudah muncul ketika kedua mata ini jauh memandang ke arah pekarangan yang di kelilingi oleh pohon-pohon besar. Semakin dekat rasa itu pun semakin menjadi ketika kaki ini mulai melangkah di tengah-tengah jalan sempit dan terjal penuh bebatuan itu. Tepat di Dusun Depok RT. 04 Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta.

“Sehat Pak”. Begitulah jawaban seorang simbah Rembun yang berusaha menunjukkan ke semua orang bahwa badannya selalu dalam keadaan sehat. Rambut beruban, badan kurus, hati ayem, senyum renyah sudah menjadi ciri khas beliau yang selalu melekat di benak ini. Sifat terbuka kepada sipapun yang datang menjenguknya juga selalu menempel erat di diri beliau.

Iya seorang simbah yang berjuang keras seorang diri di usianya yang sudah tidak muda lagi, rumah pun beliau tidak punya.

Lantas yang di tempati itu rumah siapa ? Hanyalah sebuah rumah kosong milik tetangga dan mbah Rembun pun hanya menumpang di teras rumah itu. Dimana tidak ada dinding tebal dan atap yang kuat untuk melindungi beliau dari buruknya cuaca. Jangankan untuk bergaya hidup mewah bak orang-orang kaya, Semakin dalam obrolan kami berlangsung semakin tidak sanggup bendungan air mata ini ditahan.

Ditambah dengan uraian beliau yang kesehariannya hanya makan dengan sangat sederhana. Ketika beliau tak lagi mempunyai uang untuk sekedar beli makanan di warung, beliau hanya bisa memetik beberapa helai daun melinjo yang kemudian beliau masak dengan bumbu seadanya. Mungkin rasa dan tingkat keenakannya sudah bisa kita bayangkan.

Lalu bagaimana bisa beliau tetap mampu bertahan ditengah-tengah keadaan hidup yang seperti itu ? Setiap hari berteman sepi, berbaring di atas dipan tua yang hanya beralaskan tikar seadanya.

Semua itu beliau jalani setiap hari. Pagi, siang, sore, malam pemandangan pohon-pohon besar itulah yang hadir di hadapan beliau. Tak ada mall, tak ada restoran bahkan hadirnya suara burung dan ayam berkokok pun sudah menjadi hiburan luar biasa bagi beliau. Hidup penuh kesederhanaan di usia senjanya, hati yang kuat, jiwa yang besar, rasa syukur teramat tinggi yang selalu beliau tunjukkan.

Semua itu selalu menjadi penggelitik hati ini untuk menyadari bahwa tak sepantasnya rasa mengeluh itu selalu ada. Rumah nyaman masih bisa dirasa, makanan enak masih bisa ditelan, hidup serba kecukupan masih bisa dilakukan. Jika semua itu masih belum bisa memperbesar rasa syukur kita, lantas bagaimana jadinya dengan keadaan hidup simbah Rembun ?

Kebanyakan orang memang bilang “manusia itu tempatnya mengeluh”. Tapi sahabat, apa kita masih pantas melakukan itu semua sementara di luaran sana masih banyak orang yang keadaan hidupnya jauh memprihatinkan di banding kita. Simbah Rembun buktinya. Mari sahabat bergabung bersama kami https://kitabisa.com/campaign/bantudhuafaterlantar . Kita rangkul simbah Rembun dan saudara-saudara kita di luar sana yang menaruh harapan besar terhadap rasa peduli kita.

Rezeki yang sudah Allah berikan ke kita ada hak-hak mereka di dalamnya. Rezeki yang dikeluarkan untuk berbagi pun tidak akan pernah berkurang jumlahnya justru itu menjadi sumber rezeki kita selanjutnya. Tetap semangat berjuang menjadi orang baik dan belajar memanusiakan manusia.

Admin Pusat