28 Apr
  • By Admin Pusat
  • Cause in

BERLOMBA MENGANYAM MIMPI MENGGAPAI PELANGI

Qosim dan Ian adalah dua bocah laki-laki yang sedang beranjak remaja. Keduanya sama-sama sedang menempuh bangku sekolah menengah pertama. Qosim berada di kelas tiga sedangkan Ian masih berada di kelas satu. Meski berbeda tingkatan dan letak sekolahnya, namun mereka sangat kompak dalam berbagai hal salah satunya adalah belajar. Mereka memang bukan saudara kandung, namun mereka memiliki kesamaan dalam hal minat tentang memperdalam ilmu agama.

“Ian cukup membanggakan di bidang keagamaan. Bacaan Al-Qur’an-nya saya bisa acungkan jempol.” Kata wali kelas anak bernama lengkap Ian Apriliano Setiawan itu saat tim pendamping mengunjungi sekolahannya untuk menyelesaikan masalah administrasi sekolah.

Ian merupakan sosok anak yang pandai membaca kitab suci Al-Qur’an. Remaja berusia 16 tahun itu mengaku sangat senang saat disuruh membaca Al-Qur’an. “Mudah, kayak nyanyi.” Katanya. Selain gemar membaca kitab suci, ia juga menggemari sepak bola layaknya anak laki-laki pada umurnya.

Tak jauh beda dengan Ian, anak laki-laki yang bernama lengkap Nur Qosim itu juga gemar membaca Al-Qur’an. Meski di sekolah ia merupakan sosok yang pendiam, namun ia termasuk anak yang mudah beradaptasi dengan murid-murid yang lain. Sifatnya yang pendiam pada awalnya membuat guru-guru ragu dengan perkembangan anak berusia 16 tahun ini. Namun Qosim, sapaan akrabnya mampu menghapus keraguan guru-gurunya. Ia mampu beradaptasi dengan baik di sekolah.

“Awal-awal pindah sini dulu ya sering jadi bahan ejekan atau keusilan teman. Tapi saya cuek, yang penting sekolah.” Kata Qosim sambil menggaruk kepalanya sambil tersenyum malu.

Tak peduli dari mana mereka berasal, bagaimana latar belakang keluarganya, kedua anak tersebut lebih memilih menyibukkan diri dengan urusan sekolahnya. Qosim sedang mempersiapkan diri untuk menempuh ujian kelulusan, dan Ian sibuk dengan belajarnya agar ia dapat naik kelas dengan nilai yang memuaskan.

Tuhan selalu punya rencana yang indah untuk setiap hamba-hambanya. Mereka dipertemukan di Panti Hafara yang kini menjadi tempat bagi mereka menganyam mimpi-mimpinya. Setiap hari mereka mengisi waktu luang bersama dengan berbagi cerita layaknya sepasang kakak beradik. Semoga Hafara menjadi rumah yang selalu dapat memfasilitasi mereka agar mimpi-mimpinya tak pernah putus, karena mereka lah bibit-bibit generasi penerus bangsa.

Admin Pusat