Mbah Siyam
07 Sep
  • By Admin Pusat
  • Cause in

Bedah Rumah Milik Janda Renta, Mbah Siyam

Seorang perempuan tua yang telah renta, menunggui anaknya makan di dapur berlantai tanah hitam. Dalam temaram lampu yang hanya samar-samar, kedua putrinya menikmati nasi dan sayur buah papaya yang ia petik dari halaman rumah tetangga. Perempuan renta itu mengelus dada, sambil meneteskan air mata. “Bagaimana nasip putriku yang Tuhan beri keistimewaan memiliki gangguan jiwa ini jika aku meninggal kelak” Katanya sambil mengusap air mata.

Mbah Siyam
Mbah Siyam

Kemarin siang saya dan rombongan kurir Panti Hafara bergerak ke arah barat. Meninggalkan hiruk pikuk kota menuju desa Tegal Ngijon, Gatak, Sumberagung, Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Lokasi desa ini dekat dengan Kali Progo, yang memisahkan Kabupaten Sleman dengan Kabupaten Kulon Progo. Kendaraan kami berbelok ke selatan, tepat di barat Pasar Ngijon. Menuju sebuah rumah jaman dulu yang sudah tidak layak untuk ditinggali dan sudah waktunya mendapat program bedah rumah

Rumah 70 tahun yang lalu

Rumah tua itu memiliki atap yang sudah tak beraturan, karena kayu-kayunya lapuk dimakan waktu. Saat hujan tiba, air mengalir bak menuju muara.  Batu bata dengan ukuran besar tertata rapi dengan lem dari batu kapur dan tanah liat, bukan semen seperti sekarang. Sekilas saja, kami tahu bahwa bangunan ini sudah berumur.

 

Ternyata dugaan kami benar. Mbah Siyam, pemilik rumah, menuturkan bahwa rumah ini adalah warisan dari orangtuanya. Rumah yang berusia lebih dari 70 tahun ini pada awalnya adalah rumah istimewa. Di zaman dahulu tidak semua warga memiliki rumah dari batu bata, karenanya rumah ini menjadi pusat penyiaran agama islam. Seiring berjalanannya waktu, orangtua Mbah Siyam mampu membuat langgar. Akhirnya kegiatan keagamaan berpindah ke langgar. Rumah ini menjadi tempat tinggal

Simbah Syam

 

Mbah Siyam berjuang sendiri

Mbah Siyem dikemudian hari, mewarisi rumah istimewa ini. Ia tinggal bersama suami dan anaknya. Namun apa mau dikata, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Suami Mbah Siyem meninggal dunia saat mereka baru saja dikarunia 4 orang anak yang menggemaskan. Ia harus berjuang seorang diri demi membesarkan anak-anaknya sehingga tidak bisa melakukan bedah rumah

Derep” adalah pekerjaannya. Namun “derep” ini hanya bisa ia lakukan pada saat musim panen tiba. Tentu hasil dari ia bekerja tidak cukup untuk menyangga kebutuhannya. Karenanya, satu-satunya sawah yang ia miliki, ia jual demi membiayai sekolah anaknya, dengan harapan anaknya mampu menjadi tempatnya bergantung di hari tua.

Pengharapannya tinggal pengharapan saja. Putri pertamanya mengalami gangguan jiwa saat SMA. Putri keduanya bekerja menjadi sales terkena sakit kanker kolosom, sedangkan anak yang lainnya sibuk dengan keluarganya kecilnya masing-masing. Tidak ada yang membantu Simbah Siyem. Ia menanggung sendiri beban hidup yang demikian beratnya, diusia senjanya. Dengan tabah ia terima tidur ditemani rintik hujan. Ia hanya berdoa kepada Tuhan, agar dikirimkan malaikat tak bersayap untuk membantunya. Membantunya diusia senja, agar bisa hidup layak seperti orang pada umumnya.

Sahabat, tidakkah terketuk hatimu membaca kisahnya. Seandainya simbah Siyam adalah ibumu, apakah engkau tidak terketuk untuk membantunya. Sekedar membantu, agar ia tidak tidur dalam derasnya guyuran hujan dalam pekatnya malam. Jadilah malaikat tak bersayap mbah Siyem dengan klik https://www.kitabisa.com/zakathafara untuk membantu bedah rumah Mbah Siyam.

Admin Pusat