09 Sep
  • By Admin Pusat
  • Cause in

Balon Kehidupan Simbah Gayeng

Eeee, ketemu lagi kita. Biar nggak bosen, sini deh. Kami kasih pertanyaan dulu. Setuju. Okee, dengerin baik-baik yah. Kalo kamu suruh milih kamu pengen jadi balon empat apa balon satu ? Waktu abis. Ayo kamu yg lagi ngorok pilih mana ? Emm aku pilih yang empat aja deh, biar dipegang erat-erat. Buuuokkkkkkkkkkkkk (jungkir balik dah dia dari tempat tidurnya)

Simbah Gayeng Bapak seorang balon keliling itu.

Saat kami asyik jelong-jelong keliling kota jogja dan berfoto ria, ssssttttt. Lihat itu, tampak seorang Kakek tua berjalan mleyot (tidak lurus) sambil membawa beberapa balon dan ember sebagai pemberatnya dan sebuah Kruk sebagai penguat jalannya. Disalah satu jalan dipinggiran kota jogja. Lihat dan terus kami lihat dan berhentilah kakek tua itu di antara bayangan dua pohon pinggiran jalan tepat disebelah angkringan.

Dan kami pun langsung mendekatinya.”Assalamu’alaikum mbah. Dari tadi minum terus kok an ?”. Tanya salah satu dari kami setelah melihat kakek itu berkali-kali meneguk air putih dibotol bekalnya.”Wa’alaikumsalam. Enggeh. Kaleh prihatin geh. Setunggal sepindah niku pendak sonten. Kulo niku tiyang mboten gadah. (Wa’alaikumsalam. Ya sama prihatin ya. Satu sekali setiap sore. Saya tu orang tidak punya”. Jawab kakek tua dengan kain hitam dipundaknya yg sudah sobek-sobek.

“Berarti arep kundur nang kontrakan mbah. Yo tak terke. (Berarti mau pulang ke kontrakan mbah. Mari saya anter). Jawab kami dengan penuh rasa iba. Dan kami pun bersepakat untuk mengantar kakek tua itu pulang ke kontrakannya. Setelah beberapa menit perjalanan sampailah kami ke kontrakan kakek tua itu. YaAllah,  (Air mata kami langsung menetes) dan emang dasarnya kami cengengg.

Itulah beliau, simbah Gayeng namanya.

Beliau tinggal disebuah kontrakan kecil sederhana di salah satu daerah Kota Gede Yogyakarta. Mungkin ada salah satu dari kalian yang sekarang lagi berada di daerah itu atau malah rumahnya deket daerah situ ? Oke. Simpan dulu jawabannya dan bisa diutarakan dikolom komentar bawah nanti. Simbah tua yang usianya sudah menginjak kepala lima itu tinggal seorang diri, tidak ada keluarga maupun kerabat yang ada didekatnya.

Dengan ciri khas tubuhnya yang beda dengan yang lain. Karena beliau mengalami cacat fisik, atau bahasa trend nya Disabilitas. Tangan dan kaki kirinya sudah tidak bisa berfungsi sempurna. Beliau sebenarnya tidak hidup sebatang kara. Mempunyai istri dan seorang anak perempuan. Istrinya sudah lama meninggal sejak anak mereka masih kecil. Dan sibuah hati perempuannya itu di adopsi oleh orang luar kota.

Dan kabarnya sekarang ia sudah berumah tangga. Mungkin karena kesibukannya, jadi jarang pulang menjenguk Bapaknya. Simbah Gayeng memutuskan hal itu, karena beliau memang sudah tidak sanggup merawat dan menanggung kebutuhan putrinya. Karena dia sadar keadaannya bagaimana. Oleh karena itu, dengan berat hati beliau mengizinkan anaknya di adopsi. Karena bagaimanapun juga simbah Gayeng sebagai orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya.

Sejak saat itulah beliau menjalani hidup sendiri di kontrakan sederhana yang sudah beliau tempati sejak 42 tahun yang lalu itu.

Kontrakan yang harus dibayar sebesar 3 juta rupiah pertahun itulah tempat beliau pulang dan melepas lelah. Beliau berusaha sekuat tenaga bagaimana caranya untuk bisa memenuhi kebutuhannya. Dan berjualan balon itulah jalan beliau mengais rezeki. Beliau tidak peduli orang mau memandang sebelah mata, asal jalan rezeki yang diambil itu adalah jalan yang halal. Setiap hari beliau keliling jualan balon di pasar dan lapangan daerah Kota Gede.

Kaki yang lelah. Keringat yang bercucuran bahkan. Perut yang keroncongan. Tak pernah ia gubris kehadirannya. Beliau tetap semangat menjual balon-balon itu. Karena selain sebagai jalan rezekinya, beliau juga ingin membuat anak-anak kecil diluar sana tersenyum bahagia bisa mempunyai dan bermain dengan balon lucunya. Beliau tidak mematok harga mahal untuk balonnya. Hanya dengan 5000 rupiah/buahnya. Dengan penghasilan seminim itu, beliau berharap bisa digunakan untuk membayar tanggungan kontrakan dan sisanya buat kebutuhan makan setiap harinya.

Dan kalian tahu Sahabat, makan bukan menjadi kewajiban asupan yang harus beliau berikan ke tubuh setiap harinya.

Kadang semisal tidak ada uang untuk sekedar membeli makan, beliau hanya meminum air putih sebagai penawar laparnya. Iyaa, setiap hari. Botol air putih itulah yang tak lupa selalu beliau bawa untuk menemani keliling berjualan. Setiap beliau haus, minum. Setiap merasa lapar dan minum. YaRab. Coba bayangkan Sahabat.

Bagaimana rasanya, jika kalian disuruh menahan lapar ditengah cuaca yang panas sementara harus tetap berjalan kaki mencari rezeki !! Pasti sudah merasa tidak sanggup, baru dibayangan saja. Lantas. Kesabaran dan keteguhan hati sebesar apa yang simbah Gayeng miliki untuk menjalani semua itu.

Seperti yang kita lihat. Beliau begitu kuat, tangguh, sabar. Beliau tidak pernah mengeluh atas apa yang dialaminya. Beliau menerima dengan jembar ati (hati yang lebar) semua takdirNya. Karena, ‘Balon kehidupannya’ selalu memberikan sebuah pembelajaran hidup. Beliau selalu meniupkan udara-udara positif didalamnya. Beliau masukkan usaha serta harapan-harapan indah didalamnya. Dan menguatkan ikatannya dengan doa.

Supaya keseimbangan selalu ada disaat balonnya mengudara dan memberikan warna-warna yang indah di hidupnya. Pun membuat kagum dan tersenyum setiap mata yang memandangnya.

Sahabat, Kapan kalian isi balon kehidupan kalian ?. Dan dengan cara apa kalian mengisinya ? Hal positif kah, hal negatif kah. Ingat. Balon dapat terbang mengangkasa dengan baik berkat udara yang baik juga didalamnya. Mari, Kita isi balon kita dengan hal-hal baik. Dan sapa balon kehidupan simbah Gayeng disana.

Kita isi hidup kita yg hanya sementara ini dengan hal-hal yang positif , Gemar berbuat kebaikan dan menolong sesama. Bersama kita bisa https://kitabisa.com/zakathafara. Gerakan belajar memanusiakan manusia. Sekarang yakin hartanya masih mau dipegang erat-erat layaknya balon yang tinggal empat ? Sampai ketemu di curhatan kami selanjutnya. Sampai jumpa.

Admin Pusat