20 Jun
  • By Admin Pusat
  • Cause in

BAHAGIAKU BAHAGIA IBUKU

Adik Livia tinggal di Kepuh Wetan RT 04 Wirokerten Banguntapan Bantul ini sudah bangkit dari keterpurukan saat ditinggal ibunya beberapa bulan lalu. Meski kadang merasa rindu tetapi dik livia mampu untuk mengendalika rindu terhadap ibunya. Kini ia tinggal bersama bapak dan adiknya yang masih batita. Keseharian bapaknya dik Livia itu berjualan bakso, ketika pagi sampai sore ia berjualan ditempat biasa ia jualan, didekat pasar. Kemudian jika masih baksonya ia bawa muter-muter desa sekalian jalan pulang.

Karena kesibukannya bekerja akhirnya adiknya yang masih bayi dirawat oleh saudaranya yang rumahnya tak jauh dari rumah dik Livia. Ia adalah adik dari Bapaknya dik Livia,dik Livia biasa memanggilnya bulik. Tak jauh dari rumah buliknya itu ada makam, disanalah ibu dek Livia dimakamkan.

Setiap malam jumat ke makam untuk mengirim doa. Terasa dekat dan berdampingan terus. Disamping makam itu pula banyak rumah-rumah, dan banyak anak kecil terdengar ramai, tak ada suasana yang menyeramkan meski bersandingan dengan pemakaman.

“kalau pulang sekolah main sama temen-temen” ujar dek Livia. Dengan wajah yang sumringah dan senyum dek Livia menceritakan pengalamannya bermain bersama teman-temannya. Yaa Allah bagaimana bisa anak sekecil dia bisa sekuat ini menghadapi kenyataan. Ia sadar jika ia bersedih terus ibunya disana juga ikut bersedih.

“orang-orang yang apabila ditimpa oleh suatu musibah, mereka berkata “sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali” Q.S Al Baqoroh ayat 156. Kita sebagai manusia tak bisa berbuat apa-apa, kita bagaikan wayang yang hanya diatur oleh dalangnya. Wayangnya manusia dalangnya adalah Allah SWT. Nasib dan takdir sudah di setting. Tak bisa diubah yang ada hanya menjalani dan menerima.

Hati dan pikiranlah yang menentukan apakah kita bisa menerima takdir itu atau menolaknya. Ini adalah sunnatullah terhadap hamba-hamba-Nya. Andaai kelapangan dan kesenangan itu terus menerus diperoleh orang yang beriman dan tidak diberi ujian, niscaya akan terjadi percampuran (orang yang benar imannya dengan orang yang dusta dalam keimanannya) yang hal itu adalah kerusakan. Sementara hikmah Allah SWT menghendaki dipisahkan/dibedakannya orang yang baik dari orang yang jelek. Inilah faedah ujian. Ujian bukanlah untuk menghilangkan keimanan kaum mukminin.Beliau Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’idi rahimahullah berkata “siapa yang diberi taufik oelh Allah SWT untuk bersabar ketika ditimpa musibah, maka dia akan menahan dirinya dari sikap marah (kepada Allah SWT) baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Dia mengharapkan pahalanya dari sisi Allah SWT dan dia tau pahala yang diperoleh dari kesabarannya lebih besar daripada musibah yang menimpanya. Bahkan musibah itu bisa menjadi kenikmatan hidup bagi dirinya. Karena musibah tersebut menjadi sebuah jalan yang mengantarkannya kepada perkara yang lebih baik dan lebih bermanfaat baginya. Orang yang berbuat demikian sungguh telah berpegang pada perintah Allah SWT dan dia beruntung memperoleh pahala-Nya.

Mari kita gabung kedalam golongan orang-orang yang sabar dan kuat iman kita untuk membantu orang-orang yang terkena musibah dengan cara klik http://kitabisa.com/zakathafara

Admin Pusat