09 Nov
  • By Admin Pusat
  • Cause in

Apakah aku akan ditengok setelah ragaku terpisah dengan nyawa

Matanya sendu, melihat banyak tamu berdatangan di rumah Kliyem, salah seorang sahabatnya sewaktu kecil dulu. Ia lihat, lebih dari 300 orang datang saat siang. Belum tamu yang telah datang saat pagi hari tadi. Sanak saudara, kerabat, tetangga, berkumpul semua di rumah Kliyem. Memenuhi seluruh halaman rumah Kliyem, bahkan sampai ke halaman rumah tetangga. Padahal rumah di Gilangharjo, tempatnya tinggal itu berhalaman luas. Ketika tamu sampai meluber ke halaman rumah tetangga, berarti banyak sekali jumlahnya. Ia iri melihat banyak tamu yang dating ke tempat kliyem, bahkan beberapa tamu menitikkan air mata. Sedangkan dirinya, tak dikunjugi oleh siapa-siapa.

Dengan dibantu oleh tongkat kayu, Giyem terus menatap orang yang datang tersebut.

Tak satupun pelayat yang menyalaminya. Ia dianggap tak ada meskipun sosoknya jelas ada di sana. Sengaja Ia tak mau bergabung dengan orang-orang lainnya. Ia khawatir bau badannya membuat orang menghardiknya. Ia ambil satu dua permen, agar bau mulutnya menjadi wangi seperti orang-orang lainnya. Namun Ia tetap memutuskan tetap tidak mendekati orang-orang yang bergerombol itu.

Kliyem adalah sahabatnya yang bernasip sama. Sendirian diusia senjanya. Saat sudah tidak bisa apa-apa, mereka harus tinggal sendirian di rumah. Tanpa sanak dan tanpa keluarga. Padahal saat muda, mereka bekerja untuk keluarga. Saat mereka tak lagi bisa bekerja, semua sanak saudara meninggalkannya. Bahkan, anak semata wayangnya juga pergi tak kembali.

Ia ingat, 3 tahun yang lalu, anaknya datang kerumah, saat kondisinya sakit.

Ia meminta anaknya menjual beras yang ia miliki untuk periksa. Beras sebanyak 3 karung oleh anaknya di jual. Ia sempat diperiksakan sekali. Namun setelah itu anaknya pergi tak kembali. Puluhan purnama, tak terdengar kabar dari anaknya. Ia tak tahu harus meminta bantuan siapa untuk menghubungi anaknya. Ia hanya bertanya-tanya, apakah kelak anakku akan kembali setelah aku merenggangkan nyawa.

Seperti sahabatnya, yang didatangi oleh sanak keluarga setelah tidak ada. Tapi apalah arti dari semu itu jika ia telah tiada? Ia yang kini telah renta, tak meminta apa-apa. Kehadiran anaknya saja yang ia tunggu. Ia yang telah tua, merasa tidak menginginkan apa-apa. Hanya kasih sayang dari orang tercinta yang ia damba. Namun, sepertinya itu hanya wacana belaka.

Sahabat, sesak sekali rasanya mendengar cerita mbah Giyem. Bagai tamparan keras bagi kita yang memiliki saudara tetapi tidak pernah silaturahmi ke rumahnya. Padahal, saudara-saudara kita yang telah renta itu tak minta apa-apa. Mereka hanya ingin merasakan cinta. Mari berbagi cinta melalui https://www.kitabisa.com/zakathafara

Admin Pusat