20 Jun
  • By Admin Pusat
  • Cause in

ANAKKU MALING KUNDANG

Pagi itu jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat aku jalan-jalan di daerah Pandak Bantul. Aku pelankan langkah kakiku, saat melihat gubug reyot ditengah hutan jati itu. Asap mengepul dari atap rumbia, menandakan ada kehidupan disana. Aku sempat kebingungan mencari jalan menuju sana. Tidak ada pertanda bagaimana cara ke sana. Kupaksakan melangkah diantara tumpukan batu dan tanah liat itu. Untung tidak hujan. Aku tidak tahu, apa jadinya berjalan diantara runcing batu dan licinnya tanah liat saat musin hujan tiba, mudah terpeleset dan terbentur batu, bukan.

Kulihat sesosok perempuan menggenakan kemeja yang kutenggarai baju bekas pramuka. Mungkin baju bekas yang diberi oleh tetangganya. Baju yang Ia kenakan telah lusuh. Tak ada satupun kancing yang tersisa. Ia, selusuh gubuknya.
Dari mulutnya keluar air berwarna merah, Aku tau, perempuan itu “nginang”. Sama seperti almarhumah eyangku yang suka nginang, maka mulutnya akan berwarna merah. Dengan langkah pasti Aku dekati Ia, Aku sampaikan salam dan kuraih tanganya untuk kucium. Namun Aku tersentak, Ia menolakku. Mungkin seharusnya Aku paham Ia menolak karena Aku orang asing. Tapi ternyata Aku salah. Ia menolak karena emosi.

“Anak tidak tahu diri, tidak tahu dengan orang tua, orang tua sudah tua, tidak bisa bekerja, tapi anak tidak mau memberi makan.”

Deg, serasa jantungku berhenti berdetak. Aku kaget, Aku syok. Sepersekian detik kemudian Aku paham, Nenek renta ini sedang akan memasak air, karena sedari pagi Ia belum makan ataupun minum. Hatiku teriris-iris. Bagaimana bisa, seorang renta diusia senjanya sendiri di gubug tua, tanpa makanan, bahkan demi lapar yang mendera Ia harus memasak air sendiri, menanti siang agar ranting yang berjatuhan di sekeliling gubugnya bisa Ia bakar.
Mulutku masih saja ternganga, tak bisa berkata apa-apa. Kulihat wajahnya yang telah renta. Rambutnya yang sudah memutih. Keriputnya ada dimana-mana. Belum badannya, tinggal kulit dan tulang saja. Yaa Alloh, Aku hanya bisa menyebut namaNya.

Tetiba Aku teringat cerita tentang Malin Kundang, seorang anak yang meninggalkan Ibunya yang telah renta. Sampai ibunya rela mendoakan Malin menjadi batu karena mungkin ibunya sudah emosi melihat anaknya durhaka. Ibu ini, nasipnya hampir sama dengan Ibu Malin Kundang. Tapi Ia masih baik, tidak mengutuk anaknya menjadi batu. Padahal Ia ditinggalkan saat membutuhkan penopang, bahkan meskipun hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, makan. Tidakkah hati kita terketuk untuk membantu mereka yang makan saja tidak bisa, kawan?

Sahabat, sesungguhnya setiap dari kita berkewajiban memberi nafkah untuk orangtua, dan janda disekitar kita. Termuat dalam Hadist Riwayat Bukhori 5353 dan Muslim 2982 : “ Orang yang bekerja agar bisa memberi sebagian nafkah kepada janda, dan orang miskin, sebagaimana orang yang berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang tahajud di malam hari, puasa di siang hari.”

Oleh karena hal tersebut, mari kita sisihkan sebagian rizqi kita untuk mereka yang membutuhkan. Terlebih janda-janda di sekitar kita. Apabila teman-teman kesulitan mencari janda-janda yang membutuhkan dan takut tidak amanah, bisa zakat melalui https://kitabisa.com/zakathafara insya Allah kita sampaikan ke janda-janda dampingan Panti Hafara

Admin Pusat